Ratusan Suporter Arema Meninggal, LDII : Mari Kita Doakan Semua Korban Diberi Kedudukan Tinggi

Ketua Umum DPP LDII Chriswanto Santoso (ist)

POJOKSATU.id, JAKARTA — DPP Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) menyampaikan belasungkawa atas tragedi Kanjuruhan Malang yang menewaskan ratusan suporter Arema.

Versi polisi, tragedi Kanjuruhan telah menyebabkan 125 suporter Arema meninggal. LDII berdoa semoga korban diberikan kedudukan tinggi di sisi Allah SWT.

“Tragedi ini tak bisa diputar kembali. Kami mendoakan agar para korban diterima di sisi Allah dan diberi kedudukan yang tinggi. Kami juga mendoakan keluarga korban diberi kesabaran, keikhlasan dan hikmah,” Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso dalam keterangannya, Selasa (4/10/2022).

Menurut Chriswanto, di balik peristiwa yang memilukan ini, pemerintah juga harus melakukan evaluasi terhadap insan sepak bola nasional.


Ia juga mengingatkan sejatinya turnamen sepak bola sesungguhnya merupakan alat pemersatu.

Baca Juga :

Soal Tragedi Kanjuruhan Malang, Ade Armando Malah Salahkan Suporter Arema, Polisi Dibela

“Sepak bola sesungguhnya adalah alat pemersatu, akan tetapi musibah di Stadion Kanjuruhan kemarin, benar-benar memukul semua pihak,” tuturnya.

Karena itu, dia berharap kedepannya gelaran sepak bola Indonesia harus benar-benar disiapkan pengamanan dan keamanan.

Selain itu, sifat arogansi dalam mengamankan gelaran sepak bola juga harus dievaluasi. Hal ini guna untuk mengantisipasi terulangnya tragedi Kanjuruhan Malang.

“Mari evaluasi diri, aparat juga evaluasi mengenai kelalaian apa yang terjadi, tentu ada konsekuensi. Ini jadi protap yang akan dilaksanakan oleh seluruh pelaku sepak bola,” pungkas Chriswanto.

Baca Juga :

Penembak Gas Air Mata di Kanjuruhan Personel Brimob, 9 Pimpinannya Langsung Dicopot Kapolri

Sementara itu, Pengurus Persatuan Sepak Bola Bogor (PSB) Heriana Kurniawan mengucapkan juga turut menyampaikan belasungkawa yang mendalam terhadap insiden yang menimpa persepakbolaan Indonesia.

Ia juga menuturkan, yang menjadi pemicu kejadian insiden di Stadion Kanjuruhan Malang ada beberapa hal, seperti ketidakpuasan penonton terhadap kekalahan Arema FC dan terpancingnya aparat keamanan oleh aksi suporter yang masuk ke tengah lapangan.

“Saya melihat ketidaksiapannya panitIa pelaksana (panpel) untuk mengantisipasi membludaknya penonton,” ujarnya.

Heriyana juga berharap, masih banyak yang harus dibenahi persepakbolaan Indonesia.

Salah satunya yang harus dibenah adalah pembentukan karakter pemain, karakter insan sepak bola, dan karakter pengurus manajemennya.

“Kalau sudah memiliki sıfat yang menerima, sportivitas tinggi dan agamanya kuat, insya Allah sepak bola Indonesia akan lebih baik dari negara-negara Eropa,” pungkasnya. (firdausi/pojoksatu)