Terbaru, Korban Meninggal Tragedi Kanjuruhan Malang Disebut 153 Orang, Bukan 127 Orang

Anak kecil menjadi korban Tragedi Kanjuruhan Malang. Beberapa info di media sosial menyebut korban mencapai 153 orang (jpc)

POJOKSATU.id, JAKARTA — Beredar kabar korban meninggal tragedi Kanjuruhan Malang mencapai 153 orang sesuai informasi yang beredar di grup Telegram PSSI.

Korban meninggal versi polisi sebanyak 127 orang, namun dari info yang beredar di group telegram PSSI, Minggu pagi (2/10/2022) korban meninggal tragedi Kanjuruhan Malang menembus 153 orang.

Diketahui, rilis resmi dari Polda Jawa Timur hingga pukul 07.12 WIB, Minggu, korban meninggal tragedi Kanjuruan Malang ini mencapai 127 orang.

Sementara itu, Mabes Polri mengaku memantau pengusutan kerusuhan Arema Malang ini.


Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo mengatakan, tim dari kepolisian, TNI, dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, sedang bekerja mengusut kerusuhan di di Stadion Kanjuruhan ini.

Baca Juga :

Tragedi Kanjuruhan Dipicu Aremania Kecewa Usai 23 Tahun Timnya Tak Pernah Kalah di Kandang

“Ya (Mabes Polri) mengikuti perkembangan di lapangan, Polda Jatim, Kodam, pemerintah daerah, dan lainnya sedang bekerja,” kata Dedi sebagaimana dilansir Antara, Minggu.

Dedi mengatakan Mabes Polri memantau langsung penanganan tragedi tersebut dan memastikan tim bekerja menuntaskan.

Terkait aturan penggunaan gas air mata di dalam stadion usai laga Arema vs Persebaya ini, Dedi menyampaikan hal itu menunggu perkembangan dari Polda Jawa Timur.

“Menunggu informasi lanjut dari Polda Jatim,” tegasnya.

Korban Tewas 127 Orang

Kerusuhan yang terjadi usai Laga Arema FC vs Persebaya Surabaya di Kanjuruhan Malang menjadi tragedi terburuk atau terbesar dalam sejarah sepakbola Tanah Air.

“Telah meninggal 127 orang, dua di antaranya anggota Polri,” ujar Kapolda Jawa Timur Irjen Nico Afinta di Polres Malang Minggu dinihari (2/10/2022).

Baca Juga :

Tragedi Kanjuruhan Malang, 10 Mobil Polisi Dibakar dan Digulingkan Suporter Arema

Menurutnya, tragedi maut itu terjadi karena penumpukan massa.

“Terjadi penumpukan di dalam proses penumpukan itulah terjadi sesak nafas kekurangan oksigen,” katanya.

Kapolda Jatim juga mengatakan, penggunaan gas air mata saat Arema FC vs Perseya terpaksa dilakukan.

“Karena sudah anarkis dan menyerang petugas,” jelasnya.

Selain dari grup Telegram PSSI, beberapa kicauan di media sosial juga menyebutkan jumlah korban yang meninggal sebanyak 153 orang, bukan 127 orang seperti versi polisi. (ikror/pojoksatu)