Kenapa Jenderal Nasution Selamat dari PKI, Ini Kesaksiannya Saat Diserang Cakrabirawa

Jenderal Nasution ketika dijenguk Soeharto (ist)

POJOKSATU.id, JAKARTA — Kenapa Jenderal Nasution selamat dari G30S PKI tidak terlepas dari rahmat Allah dan kejelian istrinya melihat situasi saat tragedi genting 1 Oktober 1965.

Beberapa hari usai selamat dari rencana pembunuhan PKI, Jenderal Nasution memberikan kesaksian kepada wartawan pada pertengahan Oktober 1965.

Jenderal AH Nasution yang berasal dari Mandailing Natal Sumut ini menceritakan detik-detik mencekam pada dinihari 1 Oktober 1965.

Sekitar pukul 04.00 WIB, istri AH Nasution, Yohana Sunarti terbangun dari tidurnya karena AH Nasution mengibas-ngibaskan nyamuk.


Tiba-tiba terdengar tembakan-tembakan dan keributan di luar, disusul oleh dibukanya pintu depan dengan paksa.

Saat itu suasana sangat mencekam, Cakrabirawa terus menggedor pintu kamar dengan popor senjata diiringi rentetan tembakan.

Baca Juga :

Momen Genting Polisi Soekitman Diselamatkan Ajudan Letkol Untung di Lubang Buaya

Pagi itu, Jenderal Nasution dapat meloloskan diri dari upaya penculikan dan pembunuhan di rumahnya di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat.

Tak lama, Nasution dan istrinya mendengar suara berisik di rumah mereka. Ada yang memaksa membuka pintu kamar tamu dan kamar kerja. Mendengar kegaduhan itu, istri Nasution keluar kamar.

Hanya beberapa saat saja, dia masuk lagi dan bergegas mengunci pintu. Johana memberitahu suaminya bahwa di luar ada pasukan Cakrabirawa. Khawatir akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, istri Nasution itu meminta suaminya tak keluar kamar.

“Jangan buka pintu, mereka akan bunuh kau,” kata Johana kepada Nasution.

Namun, AH Nasution menolak. Dia bersikukuh menghadapi pasukan Cakrabirawa sendiri.

“Saya akan berbicara sendiri dengan orang-orang itu,” tutur Nasution seperti dilansir dari kompascom.

Johana sempat menghalang-halangi suaminya dan menahan pintu supaya tidak dibuka. Namun, Nasution tetap memaksakan diri.

Begitu pintu terbuka, di muka kamar sudah berdiri tiga anggota Cakrabirawa. Sekonyong-konyong mereka melepaskan peluru.

Namun, tembakan itu meleset. Lima peluru lewat di atas kepala, satu melewati rambut Johana, dan beberapa lewat sela-sela ketiak.

Baca Juga :

Orang Dekat Ungkap Kesaksian Hari-hari Terakhir DN Aidit, Terlihat Panik Sampai Kakinya Lecet

AH Nasution mundur dan langsung menutup pintu. Di luar kamar, rentetan peluru dari pistol anggota Cakrabirawa terus memberondong. Nasution dan istrinya pun tiarap. Mereka susah payah mengunci pintu kembali.

Sementara, personel Cakrabirawa masih terus berupaya masuk ke kamar. Mereka menggasak pintu menggunakan senjata sampai retak-retak.

Ade Irma Nasution Tertembak

Mendengar tembakan tersebut, ibu kandung Nasution, yang memang tinggal di rumah itu, datang dari kamarnya dan masuk ke dalam kamar Nasution melalui pintu lain.

“Oh, anakku luka,” katanya sambil merangkul sang jenderal.

Ibu Nasution lantas meminta orang-orang di kamar tidak berisik supaya tak terdengar pasukan Cakrabirawa di luar.

Saat itu pula, Mardiah, adik perempuan Nasution, tergopoh-gopoh memasuki kamar kakaknya.

Dia lantas menggendong Ade Irma Suryani yang sudah terjaga dari tidurnya. Mardiah bermaksud menyelamatkan putri kedua Nasution tersebut dan memindahkan ke tempat lain.

Namun, karena gugup, dia justru membuka pintu di mana pasukan Cakrabirawa sudah menunggu.

“Begitu pintu terbuka, tembakan terus berbunyi dan senjata mengenai anak saya. Istri saya masih sempat segera menutup dan mengunci pintu kembali,” tutur Nasution.

Setidaknya, tiga peluru menembus punggung Ade Irma dan dua lainnya mengenai tangan Mardiah.

Lompat ke Kedubes Irak

Penggasakan pintu kamar oleh anggota Cakrabirawa kembali terjadi, bersamaan dengan dilepaskannya tembakan dari luar kamar.

Satu peluru rakelings sempat mengenai istri Nasution di bagian kepala, dan satu lagi di dada, mengakibatkan Johana sedikit terluka.

Johana pun mengajak Nasution dan lainnya melarikan diri melalui pintu yang menembus ke kamar sebelah dan gang depan kamar mandi. Nasution dan keluarganya pun berhasil keluar ke samping rumah.

Sewaktu hendak naik ke tembok, Nasution melihat dengan jelas bahwa anak 5 tahunnya berlumuran darah karena tembakan di punggung.

Saat itu dia hampir kembali untuk menghadapi pasukan Cakrabirawa. Namun, sang istri mencegahnya. Johana meminta dengan sungguh-sungguh supaya suaminya menyelamatkan diri secepat mungkin. Kali ini Nasution menurut.

Dia lantas memanjat dan melompat melewati tembok ke samping rumah. Upaya pelarian itu bukannya tanpa gangguan.

Saat melewati tembok, pasukan Cakrabirawa lagi-lagi memberondong Nasution dengan tembakan. Rupanya, Cakrabirawa benar-benar mengepung seluruh sisi rumah Nasution. Namun, titik pelarian Nasution itu tak terlalu terlihat oleh pasukan.

“Tetapi syukur alhamdulillah, tak ada peluru yang mengenai diri saya,” kata Nasution.

Nasution pun dengan jelas mendengar anggota Cakrabirawa yang berteriak, “Ada orang lari ke sebelah! Tidak kena! Pelurunya kurang ke bawah”.

Berhasil melompati tembok, Nasution kini berada di pekarangan Kedutaaan Besar Irak. Dia lantas bersembunyi di belakang drum air.

Kabar pengepungan kediaman Nasution pun terdengar oleh para petinggi militer. Mereka lantas mengerahkan pasukan untuk menyelamatkan dan menjaga rumah jenderal itu.

Sekitar dua jam lamanya Nasution bersembunyi dari kejaran pasukan Cakrabirawa. Pukul 06.30, dia diselamatkan oleh pasukan TNI dari tempat persembunyian.

Saat itu, Cakrabirawa sudah meninggalkan rumah Nasution. Sementara, Ade Irma Suryani yang tertembak sempat dilarikan ke RSPAD Jakarta. Namun, nyawanya tidak tertolong.

Tragedi itu telah merenggut nyawa Ade Irma Suryani Nasution dan Lettu Czi Piere Tendean, putri dan ajudannya.

Abdul Haris Nasution menjadi satu-satunya jenderal TNI yang lolos dari sasaran penculikan dan pembunuhan dalam peristiwa G30S/PKI.

Jenderal Nasution adalah salah satu saksi, pelaku sejarah, sekaligus Menko Hankam/KASAB pada saat terjadi peristiwa pembunuhan oleh PKI pada 1 Oktober 1965. (ikror/pojoksatu)