Brigjen Soepardjo ‘Bertobat’ Sebelum Dieksekusi Mati, Azan Sebelum Waktunya di Penjara

Brigjen Soepardjo semasa muda sebelum ditangkap ABRI karena terlibat PKI (ist)

POJOKSATU.id, JAKARTA— Brigjen Soepardjo dihukum mati karena terlibat G30S/PKI. Soepardjo terkesan ‘bertobat’ sebelum mati dengan mengumandangkan azan di penjara.

ABRI harus mencari Brigjen Soepardjo selama hampir 2 tahun atau sejak 1 Oktober 1965 hingga 12 Januari 1967 sebelum ditembak mati.

Perlu diketahui, Soepardjo adalah tokoh G30S/PKI yang tertangkap paling akhir diantara tokoh PKI lainnya seperti Sjam Kamaruzzaman, DN Aidit dan Letkol Untung.

Perintah menangkap Soepardjo datang dari Letjen TNI Soeharto yang saat itu menjabat sebagai Pangkostrad kepada Pangdam V Jaya, Brigjen TNI Amirmachmud.


Brigjen Amir langsung bergerak cepat membentuk operasi intelijen dengan tim khusus bersandi Kalong.

Baca Juga :

Kapten Suradi, Sosok Penting Pentolan PKI Pembunuh Para Jenderal TNI AD Tahun 1965

Tim Kalong berhasil menangkap Soepardjo di rumah seorang Kopral TNI AU Soetardjo pada 12 Januari 1967.

Setelah tertangkap, Soepardjo pun diadili di Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilhub) dan divonis hukuman mati.

Menjelang eksekusi hukuman mati, Soepardjo disebut sempat memberikan sepasang sepatu kepada keluarganya.

Setelah itu pada 18 Maret 1967, sesaat sebelum dieksekusi mati regu tembak Soepardjo sempat menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan mengumandangkan azan dari sel penjara sebelum dieksekusi mati.

Brigjen Soepardjo Sempat Ragu

Mengutip catatan yang ditulis Hendro Subroto dalam buku berjudul “Dewan Revolusi PKI” yang dirilis pada 1997, seorang Perwira Menengah TNI Angkatan Darat, Mayor Inf Imam Santoso, terbang ke Jakarta dari Kalimantan Barat bersama Soepardjo.

Saat itu, Soepardjo tengah ditugaskan di Kalimantan Barat sebagai Panglima Komando Tempur II di bawah Komando Mandala Siaga (KOLAGA) dalam kampanye Ganyang Malaysia.

Akan tetapi, Imam justru menyaksikan Brigjen Soepardjo meninggalkan posnya untuk kembali ke Jakarta pada 28 September 1965.

Soepardjo sempat mengatakan kepada Imam alasan kepulangannya ke Jakarta adalah untuk memenuhi panggilan mendadak.

Tapi ternyata, Soepardjo justru jadi salah satu pimpinan atau dalang G30S/PKI 1965.

Sebelum peristiwa mengerikan itu terjadi, Soepardjo yang dikenal sebagai seorang prajurit tempur dan ahli strategi, sempat memberikan pernyataan kepada Sjam Kamaruzaman, yang menduduki posisi sebagai Ketua Biro Khusus PKI.

Pertanyaan Soepardjo kepada Sjam, adalah mengenai rencana cadangan jika Gerakan 30 September gagal.
(ikror/pojoksatu)