Bersembunyi Ketakutan di Lemari, Tokoh PKI DN Aidit Ditangkap Pakai Baju Menteri di Solo

Penangkapan tokoh PKI DN Aidit (ist)

POJOKSATU.id, JAKARTAPenangkapan tokoh PKI DN Aidit dilakukan 22 November 1965 atau berselang sebulan usai pemberontakan PKI. Aidit ketakutan dan sembunyi di lemari.

Penangkapan tokoh PKI DN Aidit dilakukan di Solo tepatnya di Kampung Sambeng, Kelurahan Mangkubumen di rumah salah seorang warga biasa bernama Kasim alias Harjo Martono.

Alwi Shahab dalam harian Republika menulis, pada saat penangkapan, Aidit bersembunyi di dalam sebuah lemari.

Aidit ditemukan bersembunyi di rumah warga oleh Kolonel Yasir Hadibroto, Komandan Brigade IV Infanteri, dan para anak buahnya.


Pada saat penangkapan, Aidit berkali-laki meminta pada Kolonel Yasir untuk bertemu dengan Presiden Soekarno.

Baca Juga :

Brigjen Soepardjo ‘Bertobat’ Sebelum Dieksekusi Mati, Azan Sebelum Waktunya di Penjara

Namun, ia tidak mau menuruti begitu saja permintaan Aidit.

“Jika diserahkan kepada Bung Karno pasti akan memutarbalikkan fakta sehingga persoalannya akan jadi lain,” ungkap Yasir seperti dikutip dalam buku Siti Hartinah Soeharto: Ibu Utama Indonesia karya Abdul Gafur.

Sementara itu, Kusno menceritakan penangkapan tokoh PKI DN Aidit ini seperti dikutip dari buku G30S Dan Kejahatan Negara.

Dalam situasi diburu tentara, Aidit mencoba terus bertahan. Kusno, pengawal pribadi Aidit yang kemudian tertangkap dan dibui, menceritakan hal itu.

“Aidit hidup dalam keadaan dikejar-kejar, karena penyelesaian politik yang diharapkan dari Presiden Soekarno tidak kunjung tiba,” katanya.

Selama dikejar-kejar, kondisi fisik Aidit kurang bagus. Menurut Kusno, ia tidak bisa berjalan kaki jarak jauh. Kakinya lecet kena sepatu yang dipakainya, sehingga beberapa kali terpaksa digendong Kusno.

Pemandangan Aidit digendong Kusno dari satu desa ke desa lain menarik perhatian orang lain. Apalagi ternyata Aidit di saat persembunyian itu masih mengenakan pakaian menteri.

DN Aidit Dieksekusi

Pada pagi buta usai penangkapan tokoh PKI DN Aidit, Yasir pergi dengan membawa Aidit meninggalkan Solo. Memasuki Boyolali, Yasir membelokkan mobilnya menuju ke Markas Batalyon 444.

Di sana, ia menanyakan pada Mayor Trisno, komandan batalyon, apakah ada sumur di tempat itu. Sang komandan menunjuk sebuah sumur tua di belakang markas. Yasir kemudian membawa Aidit ke sana.

Di depan sumur, Yasir mempersilahkan tahanannya untuk mengucapkan pesan terakhir. Namun, waktu itu justru DN Aidit mengumandangkan pidato dengan berapi-api.

Baca Juga :

Kapten Suradi, Sosok Penting Pentolan PKI Pembunuh Para Jenderal TNI AD Tahun 1965

Mendengar pidato itu, Kolonel Yasir dan para anak buahnya naik pitam. Dia langsung menembak Aidit dengan peluru hingga dadanya berlubang. Jenazahnya langsung tersungkur dan masuk ke dalam sumur.

Setelah bertahun-tahun berlalu, tak ada satupun penanda bekas sumur di pekarangan gedung tua bekas markas Batalyon 444 di Boyolali.

Tanahnya sudah ditumbuhi berbagai tanaman seperti labu siam, ubi jalar, pohon mangga, serta jambu biji.

Namun, banyak orang meyakini bahwa di sana dulu ada sumur tua yang menjadi tempat pembuangan jenazah Aidit.

Salah satunya yang meyakininya adalah, Mustasyar Nahdlatul Ulama (NU) Boyolali, Tamam Saemuri (71).

Pada tahun 1965, Tamam muda adalah seorang aktivis Gerakan Pemuda Ansor. Dia sempat bertemu dengan Kolonel Yasir dalam sebuah rapat organisasi di pendopo kantor kabupaten.

Dalam rapat itu Yasir mengumumkan kalau dia telah menembak mati Aidit beberapa hari sebelumnya.

Selain itu, Yasir juga menunjukkan arloji Aidit yang ia bawa dan menceritakan pada saat membunuhnya, DN Aidit diberondong senapan AK sampai habis satu magasin. (ikror/pojoksatu)