Siasat Brigjen Soepardjo Bisa Lolos 2 Tahun Kejaran ABRI, Mulai Tukang Radio hingga Tidur di Loteng

Brigjen Soepardjo semasa muda sebelum ditangkap ABRI karena terlibat PKI (ist)

POJOKSATU.id, JAKARTA – Aktor utama G30S/PKI Brigjen Soeparjdo berhasil lolos 2 tahun dari kejaran ABRI/TNI. Berbagai siasat dipakai Soepardjo termasuk jadi tukang radio.

Brigjen Soepardjo usai meletusnya pemberontakan PKI September 1965 tak kunjung berhasil ditangkap. Soepardjo baru berhasil diciduk pada 12 Januari 1967.

Akhir pelarian Soepardjo berakhir di rumah Kopral Udara Sutarjo di Kompleks Dwikora, Halim Perdana Kusuma.

Wakil Ketua Dewan Revolusi pada kudeta yang gagal itu memang cukup lama lolos mengelabui ABRI yang mencarinya.


Sejak tanggal 1 Oktober 1965, dia menghilang dan menjadi buronan ABRI. Pada tanggal 2 Oktober 1965, Supardjo keluar dari wilayah basis PKI di Pondok Gede menuju ke daerah Senen.

Baca Juga :

Kapten Suradi, Sosok Penting Pentolan PKI Pembunuh Para Jenderal TNI AD Tahun 1965

Ia tinggal sehari di sebuah gang sebelah Gedung Sandiwara Miss Cicih.

Karena ada penangkapan terhadap orang-orang PKI di daerah ini, ia pindah ke Kramat Sentiong.

Selanjutnya Supardjo dibawa oleh Udin seorang kurir ke rumah Marto Suwandhi seorang anggota PKI di Jalan Gunung Sahari.

Di tempat ini, ia tinggal selama satu bulan dan mulai banyak berhubungan dengan orang- orang PKI lainnya.

Untuk keamanan selanjutnya, Supardjo dibawa oleh orang yang bernama Saleh ke Cilincing dan tinggal di rumah Slamet Bernard seorang anggota PKI. Selanjutnya pindah ke rumah Sunardi, masih di daerah Cilincing.

Daerah Cilincing rupanya aman dan Supardjo tinggal di sana sampai empat bulan lamanya.

Ia berpindah-pindah rumah dari rumah Slamet Bernard, rumah Mayor Laut Suwardhi dan ke rumah Kapten Laut Ir Nandang Safei untuk menghindari penggerebegan yang tiba-tiba diadakan oleh ABRI maupun rakyat.

Atas usaha Mayor Laut Sunardi, ia memperoleh kartu penduduk Kelurahan Semper atas nama Syarief.

Namun pada perkembangannya, daerah Cilincing juga sudah dianggap berbahaya, maka Supardjo berusaha menyingkir dari daerah itu.

Dan pada tanggal 2 Januari 1967, ia datang ke sekitar Halim untuk mencari tempat persembunyiannya yang baru.

Ia menyamar sebagai pedagang radio dengan nama Ibrahim.

Dalam perjalanan dari Cilincing ke sekitar Halim, Brigjen Supardjo dijemput oleh Syawaludin, anggota PKI di Kramatjati.

Kemudian Syawaludin mengantarkan Supardjo ke rumah Kopral Udara Sutarjo di Kompleks Dwikora, Halim.

Tenyata kedatangan Supardjo tercium oleh intel-intel Tim Kalong yang dikerahkan mencarinya.

Sebagai unsur pelaksana operasi Tim Kalong, Komandan Kodim 0501 Letkol Sudjiman, mengadakan koordinasi dengan Pangkowilu V dan Komandan Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma Kolonel Rusman.

Kepada Kapten Inf Suroso diperintahkan memimpin tim Kalong dengan tujuh orang anggotanya sekaligus mengadakan koordinasi dengan Komandan Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma Kolonel Rusman.

Keikutsertaan unsur AURI dalam penangkapan ini sangat penting mengingat daerah yang akan dimasuki adalah Pangkalan Udara Halim.

Untuk menyesuaikan keadaan, anggota TNI Angkatan Darat yang tergabung dalam tim operasi Tim Kalong mengenakan seragam Angkatan Udara. Demikian juga kendaraan yang digunakan milik AURI.

Soepardjo Tidur di Loteng

Tepat pada pulul 03.00 tanggal 12 Januari 1967 subuh, di suatu tempat di dekat Kompleks Halim, Kapten Inf Suroso memberikan komando agar semua anggota menaiki dua buah Jeep Nissan AURl yang sudah dipersiapkan.

Mendekati arah sasaran, mereka di perintahkan turun dan menyusun formasi. Menurut perkiraan Supardjo tidak akan menyerah begitu saja karena ia mempunyai sepucuk senjata jenis AK.

Kapten Suroso yakin kemungkinan besar Supardjo ada di rumah Kopral Udara Sutarjo.

Tepat pukul 05.00 rumah kedua digerebeg. Kapten Suroso, Peltu Rosyadi, Lettu Udara Basuki dan Lettu Udara Moch Tohir memasuki rumah Kopral Udara Sutarjo.

Ketika ditanya, Kopral Sutarjo mengatakan tidak kenaI dengan Brigjen Supardjo.

Kemudian Kapten Suroso memerintahkan anak buahnya untuk memeriksa rumah tersebut.

Di dalam rumah didapati tulisan-tulisan, guntingan pengumuman serta koran-koran yang di tempelkan didinding tembok kamar, bunyinya antara lain “Eks Brigjen Supardjo segera tangkap hidup atau mati”.

Selain itu di salah satu sudut kamar yang lain tergantung sebuah kemeja berwarna putih. Dari dalam saku kemeja tersebut didapati sebuah kartu penduduk atas nama M Syarief.

Tidak jauh dari kamar didapati sepucuk senjata AK. Kemudian kartu penduduk diambil dan senjata AK diamankan.

Ketika melihat kartu penduduk itu, Kapten Suroso yang lebih dulu mengenali Supardjo, semakin yakin bahwa buronannya masih ada di sekitar tempat itu.

Dengan keyakinannya Kapten Suroso memerintahkan semua anggotanya meningkatkan kewaspadaan baik yang di luar maupun di dalam rumah, karena pihak lawan jelas masih mempunyai jenis senjata AK yang biasa digunakan oleh PKI.

Ditangkap di Loteng

Karena pemeriksaan di dalam rumah, Supardjo tidak ditemukan, maka Kapten Suroso memerintahkan Sersan Sukirman naik ke loteng.

Sersan Sukirman melaporkan tidak melihat apa-apa diatas karena cuaca di dalam para-para sangat gelap sekali. Ia diperintahkan turun.

Selanjutnya Kapten Suroso memerintahkan Peltu Rosadi agar naik memeriksanya sekali lagi. Dalam keadaan remang-remang Peltu Rosadi melihat ada benda putih di sudut loteng, sedangkan Kapten Suroso dari bawah mendengar bunyi yang mencurigakan di atasnya.

Peltu Rosadi kemudian berteriak, “Kalau manusia menyerah, kalau bukan saya tembak!”.

Akhirnya benda putih itu yang tidak lain adalah Brigjen Supardjo berkata “Ya saya menyerah!”.

Peltu Rosadi selanjutnya memerintahkannya turun.

Setelah yakin yang ditangkap Supardjo, Kapten Suroso menanyakan dimana dokumen disembunyikan.

Supardjo menjawab bahwa dokumen itu ada di loteng.

Kapten Suroso memerintahkan kembali anak buahnya untuk mengambil dokumen di dalam loteng. Ternyata ketika Supardjo bersembunyi di dalam loteng, tidak membawa senjata, ia membawa radio transistor kecil.

Loteng itu selain dipakai tempat persembunyian rahasia, juga berfungsi untuk menyimpan buku dan dokumen-dokumen penting milik Brigjen Soepardjo.

Kemudiam Supardjo dipersilahkan memakai pakaian. Dengan memakai kemeja warna putih, celana wool dan sandal warna coklat, ia mengucapkan Selamat Hari Lebaran kepada Kapten Suroso.

Penangkapan Supardjo oleh Tim Kalong berlangsung setengah jam dari pukul 05.00 sampai pukul 05.30 pagi.

Kemudian Supardjo dibawa ke Kodim 0501 dengan dikawal oleh Kapten Suroso bersama empat anggota AURI.

Sedangkan Lettu Udara Moch Tohir memimpin anggota lainnya menuju jalan Mustang Halim dengan kendaraan yang satunya untuk menangkap Anwar Sanusi yang bersembunyi di tempat itu. (ikror/pojoksatu)