Edwin Pasaribu Ungkap ‘Sejarah Baru’ 14 Tahun LPSK Berdiri, Laporan Istri Sambo Paling Janggal

LPSK menyebut laporan Putri Candrawati paling unik atau janggal (ist)

POJOKSATU.id, BANDUNG – Selama LPSK berdiri 14 tahun atau sejak 2008, laporan istri Ferdy Sambo atau Putri Candrawati dinilai paling janggal dalam kasus kekerasan seksual yang mereka tangani.

Laporan istri Ferdy Sambo dinilai paling janggal ke Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) ini diungkap Wakil Ketua LPSK Edwin Partogi Pasaribu.

“Hanya ibu PC pemohon yang seperti itu selama 14 tahun LPSK berdiri,” kata Edwin Partogi Pasaribu, Jumat (23/9/2022).

LPSK membeberkan keanehan atau keunikan permohonan perlindungan yang diajukan oleh Putri Candrawathi ini.


Wakil Ketua LPSK Edwin Partogi Pasaribu dalam diskusi di acara ‘Media Massa sebagai Sahabat Saksi dan Korban’ di Bandung, Jawa Barat, Jumat (23/9/2022) mengatakan laporan Putri Candrawathi adalah pemohon perlindungan yang paling unik pada kasus kekerasan seksual yang mereka tangani selama ini.

Baca Juga :

Mabes Polri Bantah Ada Istilah Kakak dan Adik Asuh di Internal Polri, Ringankan Jeratan Ferdy Sambo ?

Kejanggalan ini lantaran Putri Candrawathi merupakan satu-satunya pemohon yang tidak mau menyampaikan keterangan apapun kepada LPSK, padahal yang bersangkutan butuh perlindungan.

“Karena satu-satunya pemohon sepanjang LPSK berdiri yang tidak bisa, tidak mau dia menyampaikan apapun kepada LPSK,” katanya.

“Padahal dia yang butuh LPSK, bukan LPSK butuh Ibu PC (Putri Candrawati),” katanya lagi.

Menurut Edwin Pasaribu, istri Ferdy Sambo ini tak pernah responsif saat LPSK mulai meninjau permohonannya.

Ditambah ada dua hal umum pada konteks kekerasan seksual yang dialami Putri Candrawati yang tidak terpenuhi dari sisi korban.

“Ibu PC butuh perlindungan LPSK, tapi tidak antusias, tapi kok tidak responsif gitu,” jelasnya.

“Hanya ibu PC pemohon yang seperti itu selama 14 tahun LPSK berdiri,” tegas Edwin lagi.

Baca Juga :

Aziz Yanuar : Kapolri Sebenarnya Mau Selidiki Kasus KM 50, tapi Ada Kekuatan Besar Ini yang Menghalangi, Siapakah Dia ?

“Dan juga banyak hal yang sering saya sampaikan pada konteks kekerasan seksual. Umumnya ada 2 hal terpenuhi, satu relasi kuasa. Dua, pelaku memastikan tidak ada saksi,” jelasnya.

“Dua-duanya gugur pada kasus Ibu PC,” sambungnya.

Edwin Pasaribu lantas menyinggung soal Rancangan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (RUU TPKS) yang menuntut pihak LPSK untuk segera memberi perlindungan pada korban kekerasan seksual.

Edwin menyebut UU TPKS dibuat bukan untuk melindungi korban palsu.

Edwin menyampaikan ini menyinggung pertemuan berbagai pihak pada 29 Juli 2022 di Polda Metro Jaya yang bertujuan agar LPSK segera memberikan perlindungan kepada istri Ferdy Sambo ini.

“Ini UU TKPS bukan untuk melindungi orang-orang seperti ini. Untuk melindungi korban sebenarnya, untuk melindungi real korban. Bukan korban fake, korban palsu,” tegas pimpinan LPSK ini soal kejanggalan laporan istri Ferdy Sambo. (ikror/pojoksatu)