Firli Bahuri Ternyata Pernah Gagal 6 Kali Masuk Akpol, Kok Bisa Sampai Komjen, Begini Ceritanya

Ketua KPK Firli Bahuri (ist)

POJOKSATU.id, JAKARTA — Ketua KPK Komjen Purn Firli Bahuri ternyata sempat 6 kali tak lolos seleksi Akpol. Meski begitu, Firli tak putus asa. Kini pria asal Sumsel ini meraih pangkat Komjen di kepolisian sebelum pensiun.

Fakta Firli Bahuri sampai 6 kali tak lolos seleksi Akpol ini diungkapkan Ketua KPK itu saat kuliah umum tentang antikorupsi di Universitas Airlangga Surabaya beberapa waktu lalu.

Dalam kesempatan itu, purnawirawan bintang tiga ini berbagi tips dan motivasi di hadapan 600 mahasiswa yang hadir.

Sesekali Firli melempar pertanyaan kepada peserta yang didominasi mahasiswa baru itu.


Firli juga turut membagikan tips berupa lima formula pertanyaan strategis yang mesti dijawab selama proses mewujudkan cita-cita.

Baca Juga :

KPK Buktikan Sudah Ada Regenerasi Koruptor di Indonesia, Tangkap Wanita Berusia 24 Tahun

“Pertama, di mana posisi adik-adik sekarang? Setelah itu harus mengingat kembali kemana anda ke depan, tiga tahun, empat tahun, lima tahun selesai kuliah, kemana setelah kuliah?,” kata Firli Bahuri, Senin (19/9/2022).

“Lalu apa tujuan utama kita? 10 tahun, 25 tahun, 45 tahun, silakan direncanakan,” kata Firli lagi.

Firli menuturkan, di hadapan para mahasiswa, ia mengajak penting menanamkan cita-cita tinggi. Hal ini dilakukan mengingat tak selamanya proses berjalan mulus sesuai harapan.

“Yang terakhir, bagaimana anda mencapai tujuan itu? Fokuslah pada tujuan, apa yang harus dilakukan, apakah yang dilakukan cukup untuk menyelesaikan semua masalah? Apakah perlu dilakukan perubahan?,” tuturnya.

Firli kemudian berbagi pengalaman pahit, yaitu kala dirinya pernah gagal 6 kali masuk Akademi Polisi atau Akpol. Kegagalan itu terjadi dalam rentang waktu tahun 1982 sampai 1987.

“Tahun 1982 saya daftar Akabri gagal, tahun 1983 berangkat lagi ke Magelang gagal, 1984 saya daftar lagi berangkat dari Palembang ke Magelang gagal,” ungkapnya.

Tiga kali alami kegagalan, Firli akhirnya mendaftar Bintara dan diterima sebagai sersan polisi. Meskipun demikian, cita-citanya untuk menjadi jenderal polisi tak pernah putus.

“Karena punya cita-cita ingin jadi jenderal, gak langsung kawin. 1985 saya daftar lagi Akabri, gagal lagi, 1986 daftar lagi dan gagal lagi. Baru tahun 1987 saya diterima dan lulus Akabri 1990,” tandasnya.

Firli tak ingin mengalami kegagalan yang berulang, ia kemudian merumuskan perencanaan yang dikembangkan ke dalam lima pertanyaan strategis.

Bermodal perencanaan itu, satu per satu berbagai jabatan kepolisian diemban hingga berhasil jadi jenderal bintang tiga dan kini menjabat ketua KPK.

“Lima pertanyaan startegis itu harus saya jawab, dan sampai sekarang masih saya pakai,” ungkapnya. (firdausi/pojoksatu)