Pentingnya Literasi, LDII Ajak Para Santri Gelorakan Dakwah Lewat Media Sosial

LDII Ajak Para Santri Gelorakan Dakwah Lewat Media Sosial

POJOKSATU.id, JAKARTA- Media sosial sebagai ruang publik menjadi alat penyebaran radikalisme, liberalisme, hedonisme, hingga berbagai prilaku menyimpang. Problematika ini mendorong DPP LDII menjadikan media sosial sebagai area dakwah bil haal.

Bahkan para santri yang nantinya menjadi juru dakwah LDII diajak meramaikan media sosial untuk dijadikan dakwah bil haal.

“Kami mendorong literasi media sosial di kalangan santri. Mereka memiliki modal ilmu, dengan beraktivitas di media sosial, mereka bisa menebarkan kebaikan secara lebih luas. Terutama generasi muda yang haus informasi,” kata Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso dalam keterangannya, Rabu (7/9/2022).

Kyai Chriswanto pun mengajak para santri peka dan melanjutkan dakwahnya di media sosial.


Pasalnya perkembangan teknologi digital harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk memasifkan pemberitaan atau informasi positif.

“Dengan memperbanyak sumber daya jurnalis dan para santri yang memiliki keterampilan bermedia sosial, mereka dapat mengedukasi umat dan berdakwah di media sosial,” ujarnya.

Setiap bulan nantinya, kata Chriswanto ratusan pondok-pondok pesantren (Ponpes) di lingkungan LDII menghasilkan 800-1.000-an juru dakwah. Mereka disebar di pelosok-pelosok Indonesia untuk mengajar di majelis-majelis taklim LDII.

“Mereka bisa mengedukasi umat sekaligus berdakwah melalui media sosial,” tuturnya.

BACA : Hadiri HUT ke-76 Bhayangkara LDII Perkuat Pesan Presiden Soal Ancaman Ini

Sementara itu, Ketua Ponpes Wali Barokah, Kediri, Jawa Timur KH Sunarto mengungkapkan, kontribusi LDII melalui delapan bidang pengabdian perlu diinformasikan dan dikomunikasikan ke masyarakat luas.

Menurutnya, tak hanya warga LDII saja yang diharapkan dapat bijak di media sosial. Para santri, kini memiliki tugas berkontribusi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dengan membantu pemerintah membentuk karakter bangsa yang pancasialis.

“Hari-hari ini media sosial minim edukasi dan pembangunan karakter, namun riuh dengan hal-hal dangkal bahkan memecah persatuan dan kesatuan bangsa,” imbuh Sunarto.

Hal senada juga dikatakan, Habib Ubaidillah Al Hasany, Ketua Ponpes Al Ubaidah, Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur.

Dia menuturkan, sebagai pesantren yang khusus untuk menguji para santri yang akan disebar ke berbagai pelosok tanah air, maka pihaknya terlebih dulu membekali para santri dengan pemahaman kebangsaan.

“Kami bertanggung jawab menjadikan santri sebagai penegak empat pilar kebangsaan,” kata Habib Ubaid.

Menurut Habib Ubaid, elit politik yang menggunakan komunikasi politik populis menciptakan perpecahan yang mengkhawatirkan.

Karena itu ia berharap para ulama, tokoh agama, hingga santri harus aktif mendinginkan suasana agar terus tercipta kerukunan dan kesatuan bangsa.

“Sebaliknya mereka juga dituntut memproduksi konten atau informasi yang positif, agar kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara menjadi sejuk. Itu menjadi modal dalam membangun dan menyejahterakan masyarakat,” tutur Habib Ubaid yang juga pengurus DPP LDII. (firdausi/pojoksatu)