Jenderal Pertama Keturunan China Jadi Tersangka Kasus Brigadir Joshua

Brigjen Hendra Kurniawan adalah jenderal pertama keturunan China
Brigjen Hendra Kurniawan adalah jenderal pertama keturunan China.

POJOKSATU.id, JAKARTA – Jenderal pertama keturunan China, Brigjen Hendra Kurniawan ditetapkan sebagai tersangka obstruction of justice dalam kasus Brigadir Joshua Hutabarat.

Brigjen Hendra Kurniawan ditetapkan sebagai tersangka karena dianggap menghalang-halangi proses pengungkapan kasus pembunuhan Brigadir Joshua.

Jenderal bintang satu itu sebelumnya menjabat sebagai Karo Paminal Divpropam Polri sejak 16 November 2020.

Lulusan Akpol 1995 itu dicopot dari jabatannya pada 20 Juli 2022 karena diduga terlibat dalam rekayasa kasus pembunuhan Brigadir Josua.


Pria yang lahir pada 16 Maret 1974 itu kemudian dimutasi sebagai Pati Yanma Polri.

Selain Brigjen Hendra Kurniawan, Mabes Polri juga menetapkan lima perwira polisi lainnya sebagai tersangka dalam kasus yang sama.

BACA : Foto Brigadir Joshua Terkapar Usai Ditembak Ferdy Sambo, Lihat Penampakannya

Kelima tersangka itu itu yakni KBP ANP (Kombes Pol Agus Nurpatria), AKBP AR (AKBP Arif Raman Aririfin), KP CP (Kompol Chuck Putranto), KP BW (Kompol Baiqui Wibowo), dan AKP IW (AKP Irfan Widyanto).

Penetapan enam perwira polisi sebagai tersangka obstruction of justice pengungkapan kasus kematian Brigadir Josua dibenarkan oleh Kepala Divisi Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo.

“Betul, Ditsiber Bareskrim Polri telah menetapkan enam anggota Polri sebagai tersangka,” ujar Dedi Prasetyo, Kamis, 1 September 2022.

Penyidikan kasus pelanggaran pidana obstruction of justice atau penghalangan keadilan sudah berjalan dan secara paralel enam tersangka menjalani Sidang Etik Komisi Kode Etik Polri (KKEP).

“Ya sudah masuk ranah sidik dan secara pararel untuk sidang KKEP juga jalan,” kata Dedi.

BACA : Deddy Corbuzier Sindir Kak Seto : Lagi Getol Nolongin Anaknya Jenderal

Dedi Prasetyo menambahkan, hari ini sidang KKEP menyidangkan Kompol Chuk Putranto terkait pelanggaran etik tidak profesional dalam menangani perkara pembunuhan Brigadir Josua.

“Sidang diselenggarakan oleh Wabprof hari ini dengan terduga pelanggar CP terkait pelanggaran Kode Etik,” ujar Dedi.

Keenamnya disangkakan dengan Pasal 32 dan Pasal 33 Undang-Undang ITE, ini ancamannya lumayan tinggi, Pasal 221, Pasal 223 KUHP, Pasal 55, dan Pasal 56 KUHP.

Lima Klaster Kasus Brigadir Joshua

Sebelumnya, Jumat (19/8), Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Pol Asep Edu Suhari mengatakan keenam anggota Polri itu terlibat menghalangi penyidikan atau obstruction of justice kasus pembunuhan berencana terhadap Brigadir Josua di tempat kejadian perkara (TKP) Duren Tiga.

Asep menyebutkan telah diperiksa sebanyak 16 saksi terkait dengan perkara menghilangkan dan memindahkan, serta mentransmisikan rekaman CCTV sehingga tidak bekerja sebagaimana mestinya, sesuai Laporan Polisi Nomor LP: A/0446/VIII/2022 Dittipisiber Bareskrim Polri, tanggal 9 Agustus 2022.

“Dilakukan pemeriksaan sebanyak 16 orang saksi saat ini, mungkin nanti bisa berkembang,” kata Asep.

BACA : Para Jenderal Diduga Pembunuh Brigadir Joshua Sudah Dicopot, Begini Penampakan Brigjen Hendra Kurniawan, Perannya Cukup Sadis

Asep menjelaskan dalam mengungkap perkara ini, pihaknya membagi lima klaster peran dan tiap-tiap saksi, termasuk enam perwira Polri yang diduga kuat terlibat dalam tindak pidana menghalangi penyidikan kasus Brigadir Josua.

Untuk klaster pertama adalah warga Kompleks Duren Tiga, sebanyak tiga saksi inisial SN, M, dan AZ.

Kemudian klaster kedua yang melakukan pergantian digital voice recorder (DVR) CCTV, saksi yang diperiksa berjumlah empat orang, yakni AF, AKP IW, AKBP AC, dan Kompol AL.

“Klaster yang ketiga adalah yang melakukan pemindahan transmisi dan perusakan, yaitu ada tiga orang, Kompol BW, Kompol CP, dan AKBP AR,” kata Asep.

Klaster yang keempat, kata dia lagi, perannya yang menyuruh melakukan, baik itu memindahkan dan perbuatan lainnya, yakni Irjen Pol Ferdy Sambo, Brigjen Pol Hendra Kurniawan, dan AKBP Arif Rahman Arifin.

Yang terakhir klaster kelima, ada empat orang yang diperiksa, yakni AKP DA, AKP RS, AKBP RSS, dan Bripka DR.

Dalam perkara ini, kata Asep, penyidik sudah menyita sebanyak empat barang bukti, yakni hardisk eksternal merek WD, tablet atau gawai Microsoft, DVR CCT yang terdapat di Asrama Polisi Duren Tiga, dan laptop merek DELL milik Kompol Baiqui Wibowo. (rifky/pojoksatu)