Tak Ada Gambaran Pelecehan Putri, Publik Tak Puas Rekonstruksi Pembunuhan Brigadir Joshua

Adegan rekonstruksi Brigadir Joshua duduk di lantai di kamar sementara Putri Candrawati tiduran di kasur (Polri TV)

POJOKSATU.id, JAKARTA— Publik tak puas rekonstruksi pembunuhan Brigadir Joshua yang diotaki Ferdy Sambo. Rekonstruksi itu banyak tak logis, salah satunya mengenai gambaran pelecehan Putri Candrawati.

Publik tak puas rekonstruksi pembunuhan Brigadir Joshua karena polisi tak memperlihatkan dua hal mendasar terkait pembunuhan ini.

Polisi tidak memperlihatkan adegan merencanakan pembunuhan. Begitu juga bagaimana pelecehan seksual yang disebut-sebut dialami Putri Candrawati oleh Joshua.

Padahal kedua rekonstruksi itu merupakan hal mendasar dalam kasus Brigadir Joshua ini.


Dengan tak jelasnya kedua hal itu, publik tak puas rekonstruksi pembunuhan Brigadir Joshua yang digelar di dua tempat di Jakarta ini.

Baca Juga :

Selain Ferdy Sambo, Ini Deretan Delapan Jenderal Alumni Akpol 94 Batalyon Tunggal Panaluan

Pakar hukum Suparji Ahmad mengkritik rekonstruksi pembunuhan Brigadir Joshua yang digelar pada Selasa (30/8/2022).

Rekonstruksi tersebut digelar di dua lokasi, di rumah dinas Ferdy Sambo di Saguling, Duren Tiga, Jakarta Selatan.

Kemudian di kediaman pribadi mantan Kadiv Propam itu yang lokasinya tidak terlalu berjauhan.

Menurut Suparji, rekonstruksi tersebut tidak sesuai dengan ekspektasi publik dan tidak logis.

Ia mengatakan, bahwa publik berharap rekonstruksi tersebut memperagakan semua adegan yang dilakukan Ferdy Sambo terhadap Brigadir Joshua.

“Tetapi pada sisi yang lain tidak sesuai ekspektasi publik,” kata Suparji dalam keterangannya, Rabu (31/8/2022).

Suparji mengatakan publik tak puas atas rekonstruksi pembunuhan Brigadir Joshua ini karena tak menggambarkan fakta yang mengemuka di publik.

“Karena tidak menggambarkan imajinasi publik dan juga tidak menggambarkan fakta yang mengemuka di publik,” sambungnya.

Kendati demikian, Suparji mengapresiasi rekonstruksi yang dilakukan Polri terhadap 5 tersangka kasus kematian Brigadir Joshua.

Baca Juga :

Deretan Momen Mesra Ferdy Sambo dan Putri Candrawati saat Rekonstruksi, Pesan Tersembunyi ?

“Rekonstruksi pada satu sisi kita apresiasi ya,” ujar dosen Universitas Al-Azhar itu.

Menurutnya, dalam rekonstruksi kematian Brigadir Joshua itu sangat tidak masuk logika.

“Belum ada kebenaran, karena semuanya masih tidak logis. Yang rekonstruksi ini juga tidak dianggap sebagai sebuah kebenaran,” terangnya.

Ia mengatakan, bahwa polisi tidak memperlihatkan adegan merencanakan pembunuhan Brigadir Joshua.

Kemudian bagaimana pelecehan seksual yang disebut-sebut dialami Putri Candrawathi oleh Brigadir Joshua.

Padahal kedua rekonstruksi itu merupakan hal yang mendasar dalam kasus Brigadir Joshua ini.

“Tadi bagaimana pelecehan seksualnya tidak ada. Dan kemudian merencanakan pembunuhannya juga tidak nampak di situ. Itu sangat mendasar,” jelasnya.

Suparji menilai, rekonstruksi menimbulkan sebuah produksi narasi baru dan menjadi perbincangan di kalangan publik.

Karena, rekonstruksi yang digelar tidak menjawab harapan publik soal dasar perkara pembunuhan berencana ini.

“Harapan kita dalam rekonstruksi ini adalah memastikan tentang fakta-fakta yang kemudian itu sekedar sebuah reka ulang,” terangnya.

“Tetapi justru yang terjadi kita saksikan bersama itu tidak sesuai dengan fakta yang logis dan tidak sesuai dengan fakta yang rasional,” lanjutnya.

Suparji pun menduga jaksa akan gamang untuk menuntut dengan pembunuhan berencana.

Meskipun unsur pembunuhan berencana sudah terpenuhi.

“Karena ada yang menyuruh, kemudian ada yang melakukan, turut serta, ada yang merencanakan ya,” bebernya.

“Terus kemudian ada turut membantu, ya ini bisa saja dianggap sebagai sebuah pembunuhan berencana,” tegas Suparji memberikan kritik rekonstruksi pembunuhan Brigadir Joshua ini. (mufit/pojoksatu)