Anggota DPR dan Kompolnas Kena Jebakan Psikologis Ferdy Sambo, Mahfud MD Panggil Benny Mamoto

Mahfud MD
Mahfud MD

POJOKSATU.id, JAKARTA – Menko Polhukam Mahfud MD buka-bukaan terkait kasus pembunuhan Brigadir Joshua Hutabarat yang diotaki Irjen Ferdy Sambo. Ia menyebut Ferdy Sambo membuat jebakan psikologis.

Jebakan psikologis Ferdy Sambo bertujuan untuk menutupi fakta kasus pembunuhan Brigadir Joshua Hutabarat.

Beberapa orang pun terkena jebakan psikologi Ferdy Sambo, termasuk anggota Kompolnas dan anggota DPR.

Jebakan psikologi itu dibuat Ferdy Sambo agar orang percaya bahwa yang terjadi adalah peristiwa tembak-menembak antar sesama polisi.


Tembak-menembak itu dipicu oleh pelecehan yang dilakukan Brigadir Joshua kepada istri Ferdy Sambo, Putri Candrawati.

“Tidak banyak yang tahu, misalnya bahwa sudah ada jebakan psikologis kepada orang-orang tertentu untuk mendukung bahwa itu tembak-menembak,” ucap Mahfud saat menjadi tamu podcast Deddy Sorbuzier, dikutip Pojoksatu.id, Sabtu (13/8).

BACA :  Mahfud MD Bongkar Kelakuan Ferdy Sambo yang Bikin Kompolnas dan Anggota DPR Pangling

Dengan adanya jebakan itu, orang yang mendengar ucapan Ferdy Sambo akan tersentuh. Mereka akan percaya bahwa yang terjadi adalah pelecehan seksual.

“Sudah menciptakan itu kan, prakondisi untuk mengatakan bahwa itu pelecehan,” kata Mahfud.

Mahfud lantas memanggil anggota Kompolnas untuk rapat membahas masalah itu.

Ketua Kompolnas ini juga memanggil Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM).

“Saya pulang dari Mekah, saya panggil lah Kompolnas, lalu Komnas HAM, saya ajak bicara,” ucap Mahfud.

BACA : Kapolri Tak Main-main, Polisi yang Tangani Laporan Palsu Istri Ferdy Sambo Bakal ‘Disikat’, Ini Kata Brigjen Andi

Saat rapat, masih ada anggota Kompolnas dan Komnas HAM yang percaya bahwa peristiwa yang memicu pembunuhan Brigadir Joshua adalah pelecehan terhadap Putri Candrawati.

“Kompolnas dan Komnas HAM masih ada yang terpengaruh dengan kerangka pikir itu bahwa ini terjadi pelecehan, terjadi pendzoliman, sehingga ditembak oleh ajudannya (Ferdy Sambo), oleh Bharada E,” kata Mahfud.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini kemudian meminta agar anggota Kompolnas mengubah perspektif dalam menganalisa pembunuhan Brigadir Joshua.

Mahfud MD juga memanggil anggota Kompolnas, Irjen (purn) Benny Mamoto yang sempat memberikan keterangan pers bahwa apa yang disampaikan Kapolres Jakarta Selatan sudah benar.

BACA : Asmara Terlarang di Magelang Awal Petaka Brigadir Joshua

Mahfud menyebut apa yang dilakukan purnawirawan jenderal bintang dua itu salah.

“Saya panggil Pak Benny Mamoto, Anda salah. Kenapa langsung Anda bilang bahwa kejadiannya benar? Padahal ini ada persfektif lain yang mungkin lebih masuk akal,” kata Mahfud.

“Anu Pak, saya begitu ada peristiwa, bapak (Mahfud) ada di Mekah, saya langsung ke Polres Jakarta Selatan. Saya mendapat penjelasan begitu dari Kapolres,” jawab Benny Mamoto kepada Mahfud, seperti yang diceritakan Mahfud.

Mahfud mengatakan seharusnya Benny Mamoto tidak langsung percaya dengan ucapan Kapolres Jakarta Selatan.

“Kapolres yang bilang, kenapa Anda langsung percaya? Oh itu ndak masuk akal,” tegas Mahfud.

“Ndak ada kaitan antara satu cerita dengan cerita lainnya, fakta apa kan ndak mungkin begitu. Sudah sekarang ganti persfektif bahwa ini bukan pelecehan. Tapi sesuatu ini terjadi,” tambah Mahfud.

Mahfud menyiratkan bahwa peristiwa yang terjadi setelah pembunuhan tak kalah mengerikan. Namun sampai saat ini belum dibuka ke publik.

“Sampai sekarang kan belum ada yang tahu apa yang terjadi di Jumat sore (8/7) sampai Senin sore. Di tempat itu dan orang-orang itu ke mana. Nanti biar diungkap di pengadilan,” jelas Mahfud.

“Itu ndak ada yang tahu sampai sekarang. Komnas HAM saya tanya ndak tahu,” tambahnya.

Mahfud menyatakan Komnas HAM sulit mengorek informasi dari Ferdy Sambo maupun istrinya, Putri Candrawati.

Ferdy Sambo baru bisa disentuh setelah Polri membentuk Tim Khusus (Timsus) yang diketaui oleh Wakapolri, Komjen Gatot Eddy Pramono.

“Komnas HAM sulit memerika Sambo, memeriksa istrinya, ndak bisa disentuh kan kalau itu. Kan baru sesudah dibentuk Timsus baru bisa disentuh. Itu pun tidak langsung,” katanya.

“Nah yang begini ini saya kawal. Orang bilang saya ikut campur, saya ndak ikut campur ke pro justitianya,” tandas Mahfud MD. (one/pojoksatu)