Tiga Rumah Ferdy Sambo Digeledah Brimob, Petugas Amankan Koper Hitam, Ternyata Berisi

Sejumlah personel Brimob berseragam loreng lengkap menyambangi Gedung Bareskrim Polri pada Sabtu (6/8) siang tadi. Foto: Fransiskus Adryanto Pratama/JPNN.com

POJOKSATU.id, JAKARTA- Tim khusus Polri melakukan penggeledahan di tiga lokasi kediaman Irjen Ferdy Sambo di Duren Tiga No. 58, Jalan Saguling, dan Jalan Bangka, Dilakukan secara marathon dari mulai Selasa hingga Kamis dinihari. Ketiga lokasi berada di wilayah Jakarta Selatan.

Irjen Ferdy Sambo merupakan tersangka pembunuhan Brigadir Joshua.

Usai melakukan penggeledahan, dua anggota Brimob mendatangi Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, sekitar pukul 15.43 WIB sambil membawa sebuah koper berwarna hitam.
Kemudian, anggota Brimob keluar dari gedung tersebut pukul 16.14 WIB.

Kedua anggota Brimob tersebut mengenakan baju dinas lapangan bermotif loreng atau seragam loreng pelopor dan baret berwarna biru.


Kepala Divisi Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo mengatakan seluruh barang bukti yang ditemukan di lokasi penggeledahan sudah disita dan sedang dilakukan pendalaman oleh penyidik.

Namun, Dedi tidak memerinci barang bukti dari kediaman Ferdy Sambo.

“Tidak disampaikan karena teknis oleh penyidik,” ujarnya.

BACA : Profil Putri Candrawati Istri Irjen Ferdy Sambo, Dokter Gigi Pilih Fokus Dampingi Suami

Penggeledahan oleh penyidik Timsus Polri sejak Selasa (9/8) pukul 15.16 WIB dan berakhir Kamis sekitar pukul 01.00 WIB.

Kegiatan tersebut mendapat pengamanan ketat oleh anggota Brimob yang berjaga di tiga lokasi, kemudian memasang garis polisi.

Penggeledahan pada hari yang sama diumumkannya Irjen Ferdy Sambo sebagai tersangka oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

Ferdy Sambo ditetapkan sebagai tersangka bersama tiga tersangka lainnya, yakni Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu atau Bharada Eliezer, Brigadir Kepala (Bripka) Ricky Rizal atau Bripka RR, dan satu tersangka sipil bernama Kuat atau KM (sopir Putri Candrawathi).

Mereka disangkakan dengan Pasal 340 KUHP (pembunuhan berencana) subsider Pasal 338 KUHP juncto Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP dengan ancaman maksimal hukuman mati atau seumur hidup, atau selama-lamanya 20 tahun penjara.

Dalam kasus ini juga terungkap fakta bahwa Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J tewas ditembak oleh Bharada E atas perintah Irjen Ferdy Sambo. Penyidikan oleh Timsus Polri tidak menemukan adanya peristiwa tembak-menembak seperti laporan awal kasus tersebut.

Kasus penembakan terhadap Brigadir J terjadi di rumah dinas mantan Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo, kompleks Polri Duren Tiga, Jakarta Selatan, Jumat (8/7) lalu. Hingga kini penyidik masih mendalami motif pembunuhan terhadap Brigadir J. (dhe/pojoksatu/jpnn)