Benarkah Kuku Brigadir Joshua Dicabut Paksa Sebelum Meninggal ? Ini Jawaban Komnas HAM

Brigadir Joshua Hutabarat dan kekasihnya Vera Simanjuntak
Brigadir Joshua Hutabarat dan kekasihnya Vera Simanjuntak. (Dok Disway)

POJOKSATU.id, JAKARTA – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menindaklanjuti laporan dugaan kuku Brigadir Joshua Hutabarat dicabut paksa sebelum meninggal dunia.

Dugaan kuku Brigadir Joshua dicabut disampaikan oleh pengacara keluarga Brigadir J, Kamaruddin Simanjuntak pada Kamis (21/7).

“Kukunya dicabut, nah kita perkirakan dia masih hidup waktu dicabut, jadi ada penyiksaan,” kata Kamaruddin Simanjuntak di Gedung Bareskrim Polri, Kamis (21/7).

Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik mengakui adanya laporan terkait dugaan kuku Brigadir Joshua dicabut.


Laporan tersebut disampaikan oleh pengacara keluarga Brigadir Joshua ke Bareskrim Polri, disertai dengan dokumen foto dan video.

Tidak hanya kuku, rupanya ada juga luka sayatan pada wajah, luka tembak, dan beberapa luka lainnya yang dilaporkan.

BACA : Kamaruddin Simanjuntak Siap Dipolisikan Ahok, Saya Cuma Tanya Kapan Pacarannya, Kok Tiba-tiba Nikah

Meski mendapat laporan tersebut, Ahmad Taufan mengatakan bahwa ketika ditanya ke pihak keluarga, mereka mengaku tidak demikian.

“Jadi ada perbedaan antara laporan pengacara dengan keluarga,” kata Ahmad Taufan, Selasa (26/7).

Meski demikian, Komnas HAM tetap akan meminta ahli untuk memberikan analisanya terhadap beberapa laporan yang disampaikan.

Ditambahkan Damanik, kondisi kian runyam akibat lambatnya penuntasan kasus tewasnya Brigadir Josua. Ini dimulai dari komunikasi publik Polri yang menimbulkan ketidakpercayaan publik.

BACA : Terungkap Sosok yang Ancam Brigadir Josua Sebelum Tewas Ditembak

Komunikasi buruk ini menjadi tantangan besar bagi tim khusus yang dibentuk oleh Kapolri dan digawangi langsung Wakapolri untuk memastikan kebenaran seperti yang diinginkan bersama.

“Tidak bisa dipungkiri bahwa ini (polemik) dimulai dari komunikasi publik Polri yang kemudian menimbulkan spekulasi di masyarakat dan ujungnya ketidakpercayaan,” tegas Ahmad Taufan Damanik.

Soal kebenaran dari apa yang telah disampaikan pihak Polri termasuk keluarga Brigadir Joshua telah diterima dengan baik.

Institusi Polri telah menjelaskan dan memberikan gambaran umum dari foto dan rekaman saat Brigadir J diotopsi.

Demikian pula keterangan yang disampaikan keluarga Brigadir J dan tim forensik.

“Benar, Komnas HAM telah mendapatkan keterangan, tapi ini belum final. Kami akan minta satu lagi pendapat ahli yang cukup senior,” jelas Ahmad Taufan.

BACA : Komnas HAM Sebut Brigadir Joshua Ditembak Jarak Dekat, Terlebih Dulu Brigadir J Disakiti

Penjelasan dari para dokter khususnya tim forensik tentu memiliki etika dan batasan sebagai anggota Polri.

“Sebagai dokter misalnya hanya sampai upaya memberikan data dan menjelaskan apa yang mereka teliti dan dapatkan, selanjutnya Komnas HAM akan bandingkan dengan informasi dan data lain,” terang Ahmad Taufan.

Komnas HAM mengakui telah menerima foto dan video. Bukti lain juga diserahkan pula dari pihak keluarga.

“Maka kami sekali lagi belum pada kesimpulan, karena harus kami konfirmasi kembali dengan ahli lain setelah dokter forensik kami mintai penjelasan,” jelas Taufan.

Selaras dengan munculnya dugaan penganiayaan yang telah dilaporkan pihak kuasa hukum keluarga J ke Bareskrim Polri, Taufan menanggapinya dengan dingin. Apalagi yang terkait dengan kondisi luka dan akibat tembakan.

“Ya ada lubang-lubang yang ditemukan. Ada juga kabar kuku-kuku yang dicopot. Sementara setelah kami mintai keterangan, pihak keluarga tidak menyampaikan itu. Dari informasi itu Komnas HAM belum menyimpulkan,” ungkapnya.

Jika ditarik dari benang merah kasus ini, Taufan lebih mengarahkan unsur pembuktian dari insiden penembakan bukan pada sisi pelecehan.

“Yang tidak kalah pentingnya adalah menemukan jejak dari peluru yang bersarang di tubuh korban dalam hal ini Brigadir Yosua. Karena dari itu, penyidik bisa menemukan jenis peluru yang digunakan, mereknya apa jenisnya apa,” terangnya.

Jika proyektil, peluru sudah diketahui jenisnya maka akan mudah melakukan pelacakan.

“Kita bisa ngelacak dari senjata jenis apa yang dipakai. Maka sementara ini kami belum mau kesimpulan mengenai apa sebetulnya yang terjadi, karena memang belum final,” tandas Ahmad Taufan. (muf/pojoksatu)