Mantan Kabareskrim Temukan Kejanggakan Kematian Brigadir Joshua, Tahu Persis dong

Kadiv Propam Polri Ferdy Sambo dan Brigadir Joshua

POJOKSATU.id, JAKARTA – Mantan Kabareskrim Komjen Pol (Purn) Susno Duadji menilai, sejatinya kematian Brigadir Joshua itu adalah kasus yang mudah.

Pasalnya, semua yang berhubungan dengan kematian Brigadir Joshua itu sudah sangat jelas dan ada.

Mulai dari korban tewas, pelaku sampai barang bukti yang dibutuhkan polisi.

Itu disampaikan Susno Duadji dalam video yang diunggah kanal Youtube KompasTV, pada Sabtu (23/7/2022).


“Karena lokasi tewas, korban, pelaku, hingga barang bukti senjata dan selongsong peluru jelas. Semuanya ada,” ucap Susno Duajdi, dikutip PojokSatu.id.

Akan tetapi, ia menemukan ada sejumlah kejanggalan kematian Brigadir Joshua di rumah dinas mantan Kadiv Propam Irjen Pol Ferdy Sambo itu.

BACA: Jelang Otopsi Ulang Jenazah Brigadir Joshua, Warga Mendekat Makam saja tak Diperbolehkan

Salah satu yang sangat menonjol adalah pernyataan yang dilakukan polisi berselang tiga hari dari kejadian.

Untuk diketahui, Brigadir Joshua disebut polisi tewas setelah baku tembak dengan Bharada E atau Bharada Richard.

Peristiwa itu terjadi pada Jumat, 8 Juli 2022.

Namun polisi baru mem-publish peristiwa berdarah itu pada Senin, 11 Juli 2022.

Menurut Susno Duadji, hal itu sangat janggal karena kepolisian memang tak pernah ada libur.

“Kejadian meninggalnya Brigadir J itu hari Jumat. Kenapa diumumkan hari Senin? Tidak ada istilah libur di Bareskrim,” tegas Susno Duadji.

BACA: Kamaruddin Tahu Pelaku dan Yang Perintahkan Copot CCTV Rumah Ferdy Sambo, Ini Ciri-cirinya

Susno juga menyinggung soal hasil otopsi jenazah Brigadir Joshua yang juga dinilainya janggal.

“Dokter yang memeriksa dan mengotopsi jenazah Brigadir J harus diperiksa. Bila perlu dinonaktifkan. Karena dia janggal,” kata Susno Duadji.

Semestinya, hasil otopsi pun dibuka kepada publik.

“Hasil visum harusnya dibuka ke publik. Apa visum yang dibuat oleh sang dokter itu? Sorotan kita juga harus ke dokter yang memeriksa dan mengotopsi jenazah Brigadir J,” lanjut Susno.

Pemeriksaan terhadap dokter forensik tersebut merupakan bagian dari keterbukaan informasi dan transparansi penanganan kasus.

Itu dilakukan untuk mengetahui apakah dokter forensik otopsi jenazah Brigadir Joshua itu berada di bawah tekanan atau tidak.

BACA: Pelaku Pembunuh Brigadir Joshua Sudah Mengaku, Mabes Polri : Tanyakan saja ke Dia

Sebab Susno Duadji meyakini, andai otopsi dilakukan secara benar, pasti tidak akan memunculkan berbagai kejanggalan yang dilihat oleh publik.

“Kalau meriksanya beneran, orang nggak akan ribut. Kan harus dijelaskan, orang kena tembakan peluru atau kena luka sayat, atau kena benda tumpul,” ujarnya.

Nantinya, juga akan diketahui apakah dokter tersebut benar-benar dokter forensik atau bukan.

“Atau dokter-dokteran yang meriksa ini?” sambung Susno Duadji.

Dia mengingatkan, bahwa kasus ini sudah menjadi sorotan pubik yang jelas mempertaruhkan reputasi Polri.

Jangan sampai, hanya karena segelintir oknum maka citra baik Korps Bhayangkara rontok seketika di dunia internasional.

“Jangan sampai forensik Polri yang sudah dapat nama internasional ini dirusak karena ulah oknum yang foreksik-forensikan,” ingat Susno Duadji. (ruh/pojoksatu)