Cerita Guru SD Rekam Jenazah Brigadir Joshua, Tergesa-gesa karena Takut Ketahuan Polisi

Brigadir Joshua, Irjen Pol Ferdy Sambo dan istrinya

POJOKSATU.id, JAMBI – Kamaruddin Simanjuntak, kuasa hukum keluarga Brigadir Yosua Nopryansah Hutabarat menceritakan awal mula mengetahui banyaknya luka di tubuh Brigadir Joshua.

Awalnya keluarga tidak leluasa mengamati luka di tubuh Brigadir Joshua karena petugas tidak mengizinkan untuk membuka peti mati.

Keluarga kemudian meminta izin kepada petugas kepolisian yang berjaga di rumah duka untuk menambah formalin di tubuh Brigadir Joshua Hutabarat.

Petugas mengizinkan. Kesempatan itu dimanfaatkan dengan baik oleh keluarga Brigadir Joshua Hutabarat.


Seorang guru SD yang baru diangkat PNS pun merekam jenazah Joshua Hutabarat secara diam-diam.

Ia merekam ketika keluarga membuka baju hingga celana almarhum Brigadir Joshua.

BACA : Cerita Jenderal Fembo Punya Wanita Simpanan hingga Istri Selingkuh dengan Ajudan

Kamaruddin Simanjuntak menyebut guru SD itu adalah sosok perempuan pemberani.

Menurut Kamaruddin, rekaman dilakukan cukup tergesa-gesa karena keluarga takut ketahuan petugas, sehingga ada bagian yang tidak sempat direkam, salah satunya alat vital brigadir Joshua.

Perempuan pemberani itu langsung mengirim foto dan video yang berhasil ia rekam ke Kamaruddin.

Setelah memastikan semua foto dan video terkirim, guru SD itu kemudian menghapus semua file yang tersimpan di ponsel agar tak ketahuan oleh petugas.

BACA : Komisi III DPR Minta Polisi Buka Hasil Autopsi dan Rekaman CCTV Brigadir Joshua Secara Terang Benderang

Menurut Kamaruddin, rekaman video tersebut akan menjadi bukti untuk menguatkan kasus dugaan percobaan pembunuhan berencana.

“Jadi, bukti-bukti yang saya ajukan itu, baik video maupun foto termasuk surat itu sangat autentik sehingga tidak bisa dibantah,” kata Kamaruddin di Mabes Polri Kamis (21/7).

Siapakah perempuan pemberani ini? Kata Kamaruddin ia adalah seorang guru SD yang baru saja diangkat menjadi pegawai negeri sipil.

Kamaruddin tidak menjelaskan secara detail nama dan sekolah tempat ia bertugas, namun perempuan pemberani ini akan menjadi saksi pihaknya guna memperkuat dugaan penyiksaan yang dialami alm Brigadir J sebelum menghembuskan nafas terakhir.

Bukti Keluarga Dilarang Buka Peti Jenazah

Kamaruddin Simanjuntak menyebut bahwa pihaknya memiliki bukti elektronik adanya polisi yang melarang keluarga membuka peti jenazah Brigadir Joshua.

“Kami ada bukti elektronik rekaman video,” ungkap Kamaruddin Simanjuntak di Bareskrim Polri.

Dalam video tersebut terlihat dan terdengar jelas tangisan keluarga yang meminta peti jenazah Brigadir Joshua dibuka.

Kamaruddin menegaskan pihaknya akan menyerahkan bukti tersebut kepada penyedik agar kasus ini semakin terang benderang.

“Kami jelas melihat di dalam video itu mereka (keluarga Brigadir Joshua) histeris teriak ‘buka, buka, buka’ sambil ada tangisan. Namun, tidak segera dibuka. Jadi, itu bukti yang tak terbantahkan,” tegas Kamaruddin.

Propam Polri Membantah

Pemeriksa Utama Divisi Propam Polri, Kombes Leonardo Simatupang membantah keterangan keluarga Brigadir Joshua yang menyatakan Karopaminal Brigjen Hendra Kurniawan melarang keluarga membuka peti jenazah.

Kombes Leonardo Simatupang, Brigjen Hendra tidak ada di lokasi ketika peti jenazah diantarkan ke rumah Brigadir Joshua.

Leonardo sendirilah yang mengantarkan jenazah Brigadir Joshua, sementara Karopaminal datang setelah pemakaman selesai.

“Tuduhan melarang buka peti tidak benar dan tolong diluruskan sesuai fakta yang ada di video. Kok, banyak beredar seperti itu?,” ucap Kombes Leonardo, Rabu (20/7).

“Yang mengantar ( jenazah Brigadir Joshua ) itu saya yang paling senior. Saya enggak ada melarang dan mempersilakan,” tanda Kombes Leonardo.

Sekedar mengingatkan, Brigadir Joshua adalah anggota brimob Jambi yang menjadi ajudan Kadiv Propam Irjen Fredy Sambo.

Mulanya versi polisi, Brigadir Joshua tewas setelah ada aksi tembak menembak dengan rekan sesama anggota brimob yaitu Bharada E pada Jumat (9/7).

Masih kata polisi, aksi bermula ketika Joshua ketahuan melakukan pelecehan seksual terhadap istri Fredy Sambo yang bernama Putri, di kamar pribadi Putri di lantai 2 rumah dinas Kadiv Propam.

Bharada E diakui polisi menembak Joshua karena membela diri dari serangan peluru yang dimuntahkan Joshua. Bharada E selamat, Brigadi Joshua tamat.

Keesokan harinya jenazah Joshua dibawa pulang oleh adik kandungnya yang juga polisi melalui bandara Sultan Thaha Jambi, tanpa pengawalan yang ketat, kata keluarganya.

Atas kejadian ini keluarga tak mau menerima begitu saja keterangan polisi.

Pada Minggu (11/7) mereka membuka peti jenazah Brigadir Joshua dan mendapati banyak fakta lain, kata kuasa hukum Kamaruddin ditemui luka sayatan, jari yang hampir putus bahkan terakhir menurut Kamaruddin, diduga ada bekas jeratan di leher dan kuku yang copot.

Semua kondisi jenazah kemudian didokumentasikan lalu dijadikan alat bukti. Oleh keluarga kemudian dilaporkan sebagai pembunuhan berencana.

Kabar baiknya, Kini Mabes Polri telah menaikkan status perkara pembunuhan berencana terhadap Brigadir Joshua dari penyelidikan menjadi penyidikan.

Kadiv Propam Fredy Sambo juga telah di non aktifkan oleh Kapolri dari jabatannya. Menyusul Karo Paminal Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadiv Propam) Polri Bridgen Hendra Kurniawan dan Kapolres Jakarta Selatan Kombes Budhi Herdi Susianto, yang kehilangan jabatan karena dinonaktifkan.

Pihak keluarga juga minta dilakukan autopsi ulang agar kasus ini semakin terang benderang.

Kematian Brigadir Joshua Hutabarat menarik perhatian publik, beritanya viral di berbagai sosial media.

Tak hanya itu, presiden RI, Joko Widodo bahkan telah dua kali membuat statement terkait hal ini, terakhir ia minta agar Polri menyelesaikan kasus kematian Brigadir Joshua Hutabarat secara terbuka agar publik tahu kejadian sebenarnya. (pojoksatu)