Pesan Firli ke Pemuda dan LSM Daerah : Jadilah Pelaku Sejarah Pemberantasan Korupsi

Ketua KPK Firli Bahuri (jpc)

POJOKSATU.id, JAKARTA— Ketua KPK Firli Bahuri mendorong pemuda dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang ada di daerah agar ikut berperan aktif dalam upaya pemberantasan korupsi.

Pasalnya peran pemuda dipandang penting sebagai pelaku sejarah yang menentukan nasib Indonesia, kini dan masa mendatang.

“Hari ini anda boleh memilih sikap, apakah anda ingin menjadi saksi sejarah atau ingin menjadi pelaku sejarah. Saran saya, jangan hanya jadi saksi sejarah, tapi ambil bagian anda sebagai pelaku sejarah untuk masa depan Indonesia yang lebih baik,” kata Firli, selasa (19/7).

Firli juga menggaris bawahi dua peranan yang bisa dilakukan pemuda dan LSM dalam konteks pemberantasan korupsi.


Pertama, dengan menjadi agen perubahan di tengah masyarakat melalui berbagai aksi konkrit, khususnya dalam membangun budaya antikorupsi.

“Saya sungguh berharap, sebagai agen perubahan, para pemuda memberikan upaya-upaya untuk perubahan yang lebih baik,” terangnya.

Kedua, lanjutnya, pemuda diharapkan menjadi agen pembangunan yang turut bertanggungjawab mewujudkan tujuan bernegara.

Salah satu bentuk tanggung jawab itu ialah dengan membuat laporan yang berkualitas terkait dengan dugaan kasus korupsi di daerah masing-masing, sebagaimana ditekankan dalam materi yang diajarkan KPK pada kegiatan dimaksud.

“Rasa-rasanya sulit bagi kita mewujudkan tujuan bernegara sebagai cita-cita luhur bangsa kita apabila korupsi masih merajalela,” tegasnya.

Firli juga menegaskan, korupsi merupakan kejahatan luar biasa yang harus diperangi bersama.

Karena itu, ia mengajak pemuda dan LSM yang tergabung dalam semangat pemberantasan korupsi untuk terus berbuat dan bertindak memberantas korupsi.

“Mari berkarya untuk bangsa, mengabdi untuk negeri, bersama-sama kita wujudkan Indonesia bebas dari praktik-praktik korupsi,” tandas Firli.

Diketahui, kelas Pemuda dan LSM Antikorupsi oleh KPK tahun ini akan dilangsungkan di empat provinsi atau daerah, meliputi Medan (23-24 Agustus), Pontianak (6-7 September), Manado (21-22 September) dan Palembang (5-6 Oktober).

Peserta yang lolos seleksi akan dibekali materi terkait dengan tindak pidana korupsi, cara membuat pengaduan atau pelaporan korupsi yang berkualitas, penyuluhan antikorupsi, dan jurnalisme antikorupsi. (rel/pojoksatu)