Profil Bharada E, Pangkatnya Jauh di Bawah Namun Tewaskan Brigadir Nopryansah, Padahal Sama-sama Brimob

Sosok Bharada RE atau E yang terlibat baku tembak dengan Brigadir Nopryansah Josua Hutabarat di rumah Kadiv Propam (ist)

POJOKSATU.id, JAKARTA – Sama-sama berlatarbelakang Brimob, sosok Bharada E (RE) bisa menewaskan Brigadir Nopryansah Hutabarat usai baku tembak di rumah Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo. Padahal pangkat Bharada E jauh di bawah.

Dalam jenjang kepangkatan Polri, Bharada atau Bhayangkara Dua ini merupakan pangkat pertama paling bawah bagi tamtama yang baru masuk Polri. Sementara Brigadir merupakan kepangkatan di tingkat bintara.

Brigadir J atau Nopryansah Yosua Hutabarat terlibat baku tembak dengan Bharada E di rumah dinas Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo. Brigadir Nopryansah tewas dalam insiden tersebut.

Hasil autopsi sementara, Brigadir Nopryansah Hutabarat mengalami tujuh luka tembakan. Sementara Bharada E sama sekali tak terkena tembakan.


Diketahui, Brigadir J atau Nopryansah adalah anggota Bareskrim yang ditugaskan sebagai sopir dinas istri Kadiv Propam. Brigadir J juga berlatarbelakang Brimob.

Baca Juga :

Disinggung Hubungan Khusus Istri Kadiv Propam dengan Brigadir Nopryansah, Ini Tanggapan Polisi

Sementara Bharada E bertugas sebagai pengawal Kadiv Propam dan juga berlaatarbelakang Brimob.

Kapolres Metro Jaksel Kombes Budhi Herdi Susianto di kantornya, Selasa (12/7) mengatakan Bharada E menggunakan pistol semi-otomatis Glock 17 yang bisa memuat hingga 17 butir peluru.

Tim Polres Jaksel menemukan barang bukti sisa 12 peluru dalam magasin pistol itu sehingga ada lima peluru yang ditembakkan.

Kombes Budhi juga sempat menjelaskan tentang profil Bharada E. Bharada E merupakan penembak nomor 1 di Resimen Pelopor Korps Brimob, sehingga piawai memegang senpi.

“Di Resimen Pelopornya, dia sebagai tim penembak nomor 1 kelas 1 di Resimen Pelopor ini yang kami dapatkan,” ujarnya.

Kombes Budhi mengatakan Bharada E juga merupakan pelatih di Resimen Pelopor tersebut.

“Jadi kebetulan, sebagai gambaran informasi, kami juga melakukan interogasi terhadap komandan Bharada RE, bahwa Bharada RE ini sebagai pelatih vertical rescue,” katanya.

Baku tembak itu terjadi dalam jarak yang relatif dekat. Baku tembak bermula saat Brigadir J masuk ke kamar pribadi Irjen Ferdy Sambo.

Di dalam kamar tersebut, ada istri Irjen Ferdy yang sedang beristirahat. Brigadir J lalu disebut melakukan pelecehan dan menodongkan pistol ke istri Irjen Ferdy.

Istri Irjen Ferdy sempat berteriak hingga terdengar Bharada E yang ada di lantai atas rumah. Bharada E lalu pergi menuju arah teriakan istri Irjen Ferdy.

Bharada E sempat bertanya soal apa yang terjadi hingga istri Kadiv Propam berteriak. Namun Brigadir J lalu melepaskan tembakan ke arah Bharada E hingga kemudian terjadi baku tembak.

“Kemudian, mendengar teriakan dari ibu, maka Bharada E, yang saat itu berada di lantai atas, menghampiri dari atas tangga yang jaraknya dari Brigadir J itu kurang lebih 10 meter,” kata Karo Penmas Divhumas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan, Selasa (12/7).

“Bertanya ada apa? Namun direspons dengan tembakan yang dilakukan Brigadir J. Akibat tembakan tersebut terjadilah saling tembak dan berakibat Brigadir J meninggal dunia,” tambahnya.

Disinggung Bharada E sama sekali tak mengalami luka-luka dalam insiden baku tembak ini, ini jawaban Brigjen Ramadhan.

Brigjen Ramadhan menyebut Bharada E berada di posisi lebih tinggi dalam insiden baku tembak tersebut.

“Tidak ada (kena tembak), kan posisi dia lebih tinggi dan dia posisinya dalam keadaan yang terlindungi,” kata Brigjen Ramadhan menanggapi tak ada luka di tubuh Bharada E ini. (ral/int/pojoksatu)