Kisah Pika Butuh Ganja Medis, Ini 7 Manfaat Ganja untuk Kesehatan

Ilustras daun ganja medis

POJOKSATU.id, JAKARTA – Kisah Pika yang mengidap cerebral palsy atau kelainan otak viral setelah ibunya, Santi Warastuti, membawa poster ‘tolong anakku butuh ganja medis‘.

Aksi itu dilakukan Santi bersama suaminya, Eto dan membawa serta Pika di CFD kawasan Bundaran HI pada Minggu (26/6/2022).

Dengan kondisi cerebral palsy, Pika kerap mengalami kejang-kejang.

Sementara teman Pika yang mengidap penyakit sama, beberapa minggu sebelumnya meninggal dunia karena kejang.


Salah satu obat yang bisa mengurangi bahkan menghilangkan kejang yang dialami Pika adalah terapi ganja medis.

Sayangnya, penggunaan ganja untuk keperluan medis di Indonesia masih belum bisa diterapkan.

Pasalnya, Indonesia masih belum melegalisasi ganja sebagai salah satu pengobatan medis.

Salah satu upaya Santi dan beberapa ibu yang anaknya mengalami penyakit sama seperti Pika yakni melalui uji materi UU Narkotika.

BACA: Mahkamah Konstitusi harus Baca, Ini Cerita Menyayat Hati Pika dan Ibu Bawa Poster ‘Tolong Anakku Butuh Ganja Medis’

Sayangnya, permohonan yang diajukan sejak dua tahun lalu itu hingga kini belum ada kepastiannya.

Dilansir PojokSatu.id dari hellosehat.com, berdasarkan penelitian, terapi ganja medis ternyata bisa berdampak positif atau bermanfaat untuk kesehatan.

Berikut 7 manfaat ganja untuk kesehatan:

1. Mencegah Glaukoma

Ganja bisa digunakan mengatasi dan mencegah mata dari glaukoma. Glaukoma adalah penyakit yang meningkatkan tekanan dalam bola mata, merusak saraf optik, dan menyebabkan seseorang kehilangan penglihatan.

Penelitian National Eye Institute di awal 1970-an mengungap, ganja dapat menurunkan intraocular pressure (IOP), alias tekanan bola mata, pada orang dengan tekanan normal dan orang-orang dengan glaukoma.

Efek ini mampu memperlambat proses terjadinya penyakit ini sekaligus mencegah kebutaan.

2. Meningkatkan Kapasitas Paru

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan Journal of the American Medical Association pada Januari 2012, disebutkan ganja tidak merusak fungsi paru-paru.

Sebaliknya, ganja malah bisa meningkatkan kapasitas paru-paru.

Dalam penelitian tersebut, para peneliti mengambil sampel dari 5.115 orang dewasa muda sepanjang kurang lebih 20 tahun.

BACA: Ini Isi Surat Ibu Bawa Poster ‘Tolong Anakku Butuh Ganja Medis’ di CFD Bundaran HI, Sedih

Perokok tembakau kehilangan fungsi paru-parunya sepanjang waktu tersebut. Tapi pengguna ganja malah memperlihatkan peningkatan kapasitas paru-parunya.

Hal ini dikaitkan dengan cara penggunaan mariyuana yang biasanya diisap dalam-dalam.

Oleh sebab itu, peneliti menyimpulkan hal ini mungkin menjadi semacam latihan untuk paru.

Namun, tentu saja paparan jangka panjang asap mariyuana dengan dosis tinggi bisa merusak paru-paru.

3. Mencegah Kejang karena Epilepsi

Dalam studi yang dilakukan pada 2003, memperlihatkan ganja bisa mencegah kejang karena epilepsi.

Robert J. DeLorenzo, dari Virginia Commonwealth University, memberikan ekstrak tanaman ini dan bentuk sintetisnya pada tikus epilepsi.

Obat ini diberikan kepada tikus yang kejang selama 10 jam.

Hasilnya, cannabinoid dalam tanaman ini mampu mengontrol kejang dengan menahan sel otak responsif untuk mengendalikan rangsangan dan mengatur relaksasi.

4. Mematikan Beberapa Sel Kanker

Salah satu kandungan dalam ganja, cannabidiol ternyata dapat menghentikan kanker dengan mematikan gen yang disebut Id-1.

BACA: Viral Ibu Perjuangkan Legalisasi Ganja Medis untuk Anaknya di CFD Bundaran HI sampai Nangis-nangis, Ini Kisahnya

Bukti ini didapat dari sebuah studi yang dilakukan sejumlah peneliti dari California Pacific Medical Center di San Francisco yang dilaporkan pada tahun 2007.

Dalam banyak kasus, dipercaya bahwa ganja mampu mematikan sel-sel kanker lainnya.

Selain itu, bukti menunjukkan bahwa ganja juga bisa membantu melawan mual dan muntah sebagai efek samping kemoterapi.

Meski banyak penelitian menunjukkan keamanannya, tanaman ini tidak efektif dalam mengendalikan atau menyembuhkan kanker.

5. Mengurangi Nyeri Kronis

Sebuah tinjauan yang dilakukan National Academies of Sciences, Engineering, and Medicines melaporkan fakta bahwa dalam dunia medis, mariyuana kerap digunakan untuk mengatasi rasa sakit kronis.

Hal ini karena mariyuana mengandung cannabinoid yang bisa membantu menghilangkan rasa nyeri ini.

Dilansir dari Harvard Health Publishing, tanaman ini bisa meringankan rasa sakit akibat multiple sklerosis, nyeri saraf, dan sindrom iritasi usus.

Tak hanya itu, ganja bahkan banyak digunakan untuk penyakit yang menyebabkan nyeri kronis, seperti fibromyalgia dan endometriosis.

6. Mengatasi Masalah Kejiwaan

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Clinical Psychology Review menunjukkan bukti bahwa mariyuana membantu mengatasi masalah kesehatan jiwa tertentu.

BACA: Ini Dia Daftar 19 Negara yang Melegalkan Pemakaian Ganja di Negaranya Tanpa Takut Diciduk

Para peneliti menemukan bukti bahwa ganja bisa membantu menghilangkan gejala depresi dan gejala gangguan stres pasca trauma.

Akan tetapi, mariyuana bukan obat yang tepat untuk masalah kesehatan jiwa, seperti gangguan bipolar dan psikosis.

Pasalnya tanaman ganja justru bisa memperparah gejala orang dengan gangguan bipolar.

7. Memperlambat Perkembangan Alzheimer

Dalam penelitian yang diterbitkan dalam Molecular Pharmaceutics menemukan fakta bahwa THC mampu memperlambat pembentukan plak amiloid.

Plak-plak yang terbentuk ini bisa membunuh sel-sel otak yang berkaitan dengan alzheimer.

THC membantu menghalangi enzim pembuat plak ini di otak agar tidak jadi terbentuk.

Namun, penelitian juga ini masih berada di tahap awal sehingga butuh lebih banyak studi penguat. (ruh/int/pojoksatu)