Mahkamah Konstitusi harus Baca, Ini Cerita Menyayat Hati Pika dan Ibu Bawa Poster ‘Tolong Anakku Butuh Ganja Medis’

Andien bersama Santi, ibu yang bawa poster 'tolong anakku butuh ganja medis' di CFD Bundaran HI

POJOKSATU.id, JAKARTA – Santi Warastuti, ibu bawa poster ‘tolong anakku butuh ganja medis‘ menceritakan kisah anaknya, Pika, yang mengidap cerebral palsy atau kelainan otak.

Akibat penyakit itu pula, Pika disebut membutuhkan CBC oil atau minyak ganja.

Santi mengungkap, dirinya mengajukan permohonan legalisasi ganja medis untuk anaknya sejak dua tahun lalu ke Makamah Konstitusi (MK).

Santi bersama sejumlah ibu lainnya, mengajukan permohonan uji materi UU Narkotika pada November 2020.


Namun selama itu pula, permohonan yang ia ajukan masih juga belum mendapat jawaban dari MK.

“Sampai sekarang sudah 2022 belum ada kepastian. Dan untuk ganja medis ini bagi saya urgent, karena Pika, anak saya, itu masih belum bebas kejang,” kata Santi, Minggu (26/6/2022) dikutip PojokSatu.id dari CNNIndonesia.com.

BACA: Ini Isi Surat Ibu Bawa Poster ‘Tolong Anakku Butuh Ganja Medis’ di CFD Bundaran HI, Sedih

Santi mengungkap, teman Pika, yang juga mengidap penyakit yang sama sudah meninggal dunia beberapa pekan sebelumnya karena tak terobati.

“Mereka meninggal tanpa sakit, tanpa kondisi drop, jadi ada yang kemungkinan kejang tidak ketahuan orang tuanya, kemudian mereka meninggal,” bebernya.

Pika mengidap Japanese encephalitis, yakni kondisi infeksi yang menyebabkan radang otak saat duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK).

Saat lahir, Pika juga tak memiliki gejala penyakit atau apapun. Pika dilahirkan sehat dengan berat badan normal 3,4 kilogram.

Saat itu, penyakit Pika bisa hilang sendiri dalam satu atau dua hari.

“Saat TK dia mulai sakit, muntah-muntah, pingsan di sekolah. Dari 2015, (Pika) sudah konsumsi obat kejang sampai sekarang,” ujar Santi.

BACA: Viral Ibu Perjuangkan Legalisasi Ganja Medis untuk Anaknya di CFD Bundaran HI sampai Nangis-nangis, Ini Kisahnya

Harapan untuk Pika pun didapat dari cerita temanya, Dwi, yang anaknya juga mengidap cerebral palsy ternyata kejang dapat diatasi dengan ganja medis.

Terapi ganja medis itu pula yang dapat membantu meredakan gejala kejang sampai benar-benar hilang.

“Saya dengar banyak berita di luar ganja bisa mengurangi dan bahkan ada yang bisa zero kejang di luar,” tutur Santi.

Sayangnya, terapi ganja ini tidak bisa dilakukan di Indonsia karena belum dilegalkan.

“Jadi saya memohon kepada MK agar segera memberikan kepastian kepada kami,” harap Santi.

Kendati demikian, terapi ganja medis disadari Santi tidak akan bisa membuat Pika sembuh total.

BACA: Hati Andien Serasa Remuk, Temui Ibu yang Bawa Poster ‘Tolong, Anakku Butuh Ganja Medis’

Akan tetapi, Santi hanya ingin Pika memiliki hidup yang lebih baik dari sekarang.

Keinginannya, Pika bisa hidup lebih nyaman tanpa sakit dan lelah karena selalu kejang-kejang. (ruh/pojoksatu)