Sosok RKH Fakhrillah Aschal Cicit KH Syaikhona Kholil, Wafat Dibawa Pakai Tandu Panjang Diiringi Ribuan Santri dan Warga

Proses pemakaman RKH Fakhrillah Aschal yang dibawa dengan tandu berukuran sangat panjang

POJOKSATU.id, BANGKALAN – Rais Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bangkalan RKH Fakhrillah Aschal, cicit KH Syaikhona Kholil, wafat pada Sabtu (14/5/2022) pagi, pukul 05.25 WIB.


RKH Fakhrillah Aschal adalah pengasuh Pondok Pesantren Syaikhona Muhammad Kholil, Demangan Barat, Bangkalan, Madura.

Di media sosial, beredar sejumlah video proses pemakaman RKH Fakhrillah Aschal.


Dalam video itu, Kiai Fakhrillah digotong dengan menggunakan tandu yang berukuran cukup panjang.

Sementara ribuan santri dan masyarakat tumpah ruah dan berebut ikut menandu sang ulama muda Bangkalan itu.

Kiai Fakhrillah juga merupakan generasi atau keturunan keempat dari almarhum KH Syaikhona Kholil.

Seorang ulama besar yang menjadi guru banyak kiai dan tokoh besar di nusantara.

Salah satu di antaranya Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari, pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU).

Lora Ismail Al-Kholili, selah seorang cicit Syaikhona Kholil, dalam sebuah akun instagramnya, menuliskan tentang sosok Kiai Fakhri.

“Innalillahi wa inna ilaihi Rajiun, selamat jalan Kiai Dzikir dan Sholawat,” tulisnya.

Di mata Lora Ismail, Kiai Fakhri memiliki jasa sangat besar.

Bangkalan yang dulunya lebih ramai dengan orkes atau dangdutan, berkat sentuhan tangan dingin Kiai Fakhri dapat berubah menjadi Kota Dzkir dan Salawat.

Tagline itu juga tertulis dalam sebuah papan besar di pintu masuk Kabupaten Bangkalan.

Kiai Fakhri adalah orang yang kali pertama mengusulkan tagline tersebut untuk Bangkalan.

“Saya sendiri menyaksikan bahwa nama yang diusulkan bukan isapan jempol. Kiai Fakhri langsung terjun sendiri ke masyarakat dan ke pelosok daerah untuk memasyaratkan salawat di seantero Bangkalan,” ungkapnya.

Lora Ismail menyaksikan langsung totalitas dan perjuangan Kiai Fakhri dalam menyebarkan zikir dan salawat di Bangkalan.

Dalam satu malam, almarhum bisa memiliki jadwal pengajian sebanyak delapa sampai sembilan titik.

“Itu belum termasuk jadwal-jadwal beliau (Kiai Fakhri, Red) di siang hari seperti mengajar dan lain sebagainya,” paparnya

Dia pun berharap semoga semangat dan perjuangan Kiai Fakhri dalam mengajak masyarakat untuk mencintai salawat tetap abadi dan menjadi amal jariyah.

“Berbagai grup salawat di Bangkalan juga kebanyakan terbentuk karena terinspirasi oleh Kiai Fakhri. Semoga perjuangannya tetap abadi,” tambahnya. (radarmadura/ruh/pojoksatu)