Baru Masuk Kerja usai Lebaran, Petinggi Demokrat Langsung Digarap KPK

Andi Arief
Andi Arief

POJOKSATU.id, JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) langsung tancap gas dengan kembali mengagendakan pemeriksaan terhadap petinggi Partai Demokrat Andi Arief, pada Senin (9/5/2022).


Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai Demokrat itu diperiksa sebagai saksi dalam kasus dugaan suap pengadaan barang dan jasa dengan tersangka selaku Bupati Penajam Paser Utara nonaktif Abdul Gafur Mas’ud (AGM).

“Pemeriksaan dilakukan di Gedung KPK atas nama Andi Arief,” kata Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri dalam keterangannya.


Sebelumnya, Andi Arief telah diperiksa penyidik KPK pada Selasa (12/4/2022) lalu.

Mantan staf khusus Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu dicecar mengenai proses pencalonan Abdul Gafur sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Kalimantan Timur.

BACA: Usai Ade Armando, Andi Arief Sebut Nama Denny Siregar dan Ruhut Sitompul, Ini Sebabnya

Untuk diketahui, Abdul Gafur sempat mencalonkan diri sebagai ketua DPD Partai Demokrat Kalimantan Timur sebelum ketangkap KPK.

Sejauh ini, KPK telah menetapkan Bupati non aktif Penajam Paser Utara Abdul Gafur Mas’ud (AGM) sebagai tersangka.

Abdul Gafur Mas’ud ditetapkan sebagai tersangka penerima suap terkait proyek pengadaan barang dan jasa serta perizinan.

KPK juga menetapkan lima tersangka lainnya dalam perkara ini, yakni swasta Ahmad Zuhdi alias Yudi, Plt Sekda Penajam Paser Utara Muliadi, Kepala Dinas PURT Penajam Paser Utara Edi Hasmoro.

Selanjutnya, Kepala Bidang Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Jusman serta Bendahara Umum (Bendum) DPC Partai Demokrat Balikpapan Nur Afifah Balqis.

BACA: Sempat Lambaikan Tangan ke Media, Begini Penampakan Andi Arief Penuhi Panggilan KPK Hari Ini

Dalam perkara ini, Abdul Gafur dan empat tersangka penerima suap lainnya diduga telah menerima uang terkait proyek pekerjaan Dinas PUTR dan Disdikpora PPU dengan nilai kontrak sekira Rp112 miliar.

Proyek tersebut antara lain, proyek multiyears peningkatan jalan Sotek-Bukit Subur senilai Rp 58 miliar dan pembangunan gedung perpustakaan senilai Rp9,9 miliar.

Di samping itu, Abdul Gafur juga diduga telah menerima uang tunai sejumlah Rp 1 miliar dari Yudi yang mengerjakan proyek jalan dengan nilai kontrak Rp64 miliar. (jpnn/pojoksatu)