Di Momen Hardiknas, Firli Kenang Perjuangan Masa Sekolah Hingga Akhirnya Menjabat Ketua KPK

Ketua KPK Firli Bahuri (kedua kanan) bersama Wakil Ketua Nurul Ghufron (kanan), anggota Dewan Pengawas Indriyanto Seno Adji (kedua kiri) dan Sekjen Cahya Hardianto Harefa (kiri) memberikan keterangan pers mengenai hasil penilaian Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) dalam rangka pengalihan pegawai KPK menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Rabu (5/5/2021). Dari 1351 pegawai KPK, sebanyak 1274 peserta berhasil memenuhi syarat dan 75 peserta tidak memenuhi syarat sementara dua orang tidak mengikuti tes. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/wsj.

POJOKSATU.id, JAKARTA- Di momen Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada Senin 2 Mei 2022, Ketua KPK Firli Bahuri meyakini pendidikan menjadi senjata ampuh dalam mengubah suatu kondisi seperti kebodohan, kemiskinan, termasuk sikap dan perilaku koruptif.

Kondisi tersebut dapat diperangi melalui pendidikan formal maupun informal.

Demikian disampaikan ketua KPK, di akun twitter pribadinya @firlibahuri yang dilihat media ini, Kamis (5/5).

“Hanya pendidikan lah, hal-hal buruk tersebut dapat diberantas tuntas sampai ke akar-akarnya,” tulis Firli.


“Hanya pendidikan lah, hal-hal buruk (korupsi dan kemiskinan) dapat diberantas tuntas sampai ke akar-akarnya,” kata Firli.

Menurut Firli, betapa pentingnya pendidikan dalam mengubah suatu kondisi.

Selain itu, kata dia, petuah orang tua juga terbukti ampuh hingga mengantarkan dirinya menjadi Ketua KPK.

“Ibu saya berpesan tentang betapa pentingnya pendidikan untuk mengubah keadaan, khususnya kondisi ekonomi yang sangat sulit saat itu,” ungkapnya.

Firli yang merupakan anak bungsu dari enam bersaudara menceritakan bahwa ia
berasal dari keluarga petani miskin di pelosok dusun, Sumatera Selatan. Ayahnya meninggal saat ia masih kecil.

Namun berkat dorongan petuah sang Ibu, ia tak pernah patah semangat. Justru keterbatasan itu ia jadikan pemacu semangat dan pelecut tekad untuk terus bersekolah setinggi-tingginya.

“Berat dan perih memang. Di kala teman SD berangkat diantar orang tua atau saudaranya dengan sepeda, saya berjalan kaki “nyeker” (tanpa alas) pergi dan pulang sejauh 16 km setiap hari,” tuturnya.

Tak hanya itu, lanjut Firli, ia terpaksa melakukan itu karena tak mampu membeli sandal apalagi sepatu.

Hal itu ia lakukan karena saking melaratnya kondisi ekonomi keluarganya sehingga ia terpaksa membayar SPP dengan cara barter buah kelapa atau durian.

“Masa SMA, saya ikut kakak mengontrak di dekat SMA 3 Palembang, dan saya ingat betul setiap pulang sekolah, bersama kakak kami mencari ikan di rawa untuk ditukar dengan pisang serta beras ketan,” tandas Firli.

Dengan kondisi seperti itu, Firli kemudian memutuskan masuk sekolah bintara, dan lulus jadi anggota polisi berpangkat Sersan. Uniknya, meski sudah bekerja, Firli tak lantas melupakan petuah Ibu.

“Barulah kesempatan yang ke-6 tahun 1987 saya bisa diterima Capratar (calon prajurit Taruna). Sejak diterima Capratar, Firli mengakui kesempatan mengenyam pendidikan tinggi dan berkarir terbuka lebar. Ia mengikuti pendidikan sebagai perwira polisi,” ujarnya.

Dari sinilah, perlahan namun pasti ia bisa menggapai bintang. Kini purnawirawan polisi bintang tiga itu dipercaya mengomandoi pemberantasan korupsi.

Firli juga mengukapkan cerita di atas untuk mengajak segenap bangsa agar bersama-sama mewujudkan cita-cita nasional melalui pendidikan, tak terkecuali dalam upaya menanamkan cara pandang dan budaya antikorupsi.

“Mari tanamkan selalu nilai-nilai antikorupsi dalam setiap jenjang pendidikan di republik ini, agar cita-cita merdeka dari pengaruh laten korupsi dapat segera kita raih,” pungkasnya.

(fir/pojoksatu)