Lebaran Suram Keluarga Rohingnya di Malaysia: Tidak Ada Perayaan, Untuk Makan Saja Susah

Hamidah Sayed Rahman bersama anak-anaknya. Foto: dari laman MalaysiaNow.com
Hamidah Sayed Rahman bersama anak-anaknya. Foto: dari laman MalaysiaNow.com

POJOKSATU.ID, SELANGOR – Umat muslim di seluruh dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriah, Senin (2/5). Tapi tidak dengan sebuah keluarga pengungsi Rohingnya di Malaysia.


Jangan bersuka cita merayakan Lebaran, untuk makan saja di hari raya ini mereka kesulitan mendapatkannya.

BACA JUGA: Pembantai Babinsa dan Istrinya Bidan Sri Lestari Ternyata Anak Buah Penembak Kepala BIN, Langsung Dibayar Kontan

Kisah pilu Hamidah Sayed Rahman bersama kelima anaknya ini dikutip dari laman Malaysia Now, Senin.


Di Kampung Indah Permai di Ampang Jaya, Selangor, Malaysia, jalan berliku menghubungkan deretan rumah di kawasan perbukitan.

Sebuah gang sempit yang bercabang dari jalan utama akhirnya memudar menjadi jalan tanah bergelombang, di kedua sisinya dilapisi semak-semak dan semak belukar.

Jalannya terlalu sempit untuk menampung kendaraan apa pun yang lebih besar dari sepeda motor, dan bahkan ini akan menemui jalan buntu oleh anak tangga curam yang menuju ke area liar kecil.

Hamidah Sayed Rahman tinggal di gubuk terdekat dengan anak tangga. Dia adalah salah satu dari beberapa keluarga Rohingya yang bermukim di situ.

Di samping rumahnya ada saluran air kecil, di dekatnya ada beberapa ayam yang mematuk tanah untuk mencari makan.

Atap seng ditutupi selimut daun mati yang jatuh dari pohon di atas kepala.

BACA JUGA: Sikap Tegas Perwira Polisi Buka Paksa Penutup Jalan, Mau Lebaran di Rumah atau di Penjara?

Gubuk reot adalah satu-satunya tempat bernaung Hamedah dan kelima anaknya. Ia berjuang sendiri menghidupi keluarganya sejak kematian suaminya tiga tahun lalu.

Mereka dulu tinggal di Kuantan, tempat suaminya bekerja sebagai tukang las.

“Tapi setelah dia meninggal, kami tidak punya sumber penghasilan lagi,” kata Hamedah, dikutip dari MalaysiaNow.

“Kami datang ke Lembah Klang karena saya diberitahu bahwa saya bisa mendapatkan bantuan di sini.”

Tetapi pandangan sepintas ke gubuk itu sudah cukup untuk menunjukkan bahwa bantuan hanya sedikit dan jarang ia peroleh.

Daerah itu dipenuhi sampah, dan bau busuk sangat terasa dari saluran pembuangan di samping rumah.

Hamidah Sayed Rahman dan anak-anaknya telah tinggal di gubuk kecil ini selama beberapa tahun.

Hamedah menyewa rumah itu seharga RM400 (Rp1,3 juta) per bulan. Di dalam, lantainya terbuat dari semen kosong.

Anak sulungnya menggunakan salah satu kamar kecil, sementara yang lain disisihkan sebagai ruang sholat. Dia dan anak-anaknya yang lain tidur di ruang tamu.

Di ruang tamu, ada meja dan beberapa kursi reyot. Sebuah mesin jahit duduk di ujung, di sudut yang menghadap ke jendela.

Tidak ada dekorasi Hari Raya yang bisa dilihat di dalam rumah.

“Sebelum suami saya meninggal, dia mengurus semua kebutuhan kami,” kata Hamedah.

“Untuk Raya, dia akan pergi ke pasar untuk membeli pakaian dan apa pun yang kami butuhkan.”

Namun, sejak kematiannya, tidak ada lagi semangat berlebaran.

Hamedah melakukan apa yang dia bisa untuk membuat acara khusus untuk anak-anaknya, menjahit pakaian mereka dengan kain yang disumbangkan oleh dermawan.

BACA JUGA: Salat Idul Fitri di JIS, Ketum PAN Puja-puji Anies, Teriakan ‘Anies Presiden’ Menggema

Tapi tidak ada uang untuk makan, apalagi perayaan Idul Fitri.

Saat ini, satu-satunya sumber penghasilan Hamedah adalah dari membersihkan rumah tetangga, sekitar RM30 hingga RM40 (Rp100-130 ribu) per rumah.

Dia menggunakan uang itu untuk membayar sewa rumah dan menyiapkan makanan di atas meja untuk anak-anaknya.

Anak-anaknya yang lebih kecil bersekolah di Darul Eslah Rohingya Academy, sebuah sekolah untuk pengungsi Rohingya.

Para guru di sana menjemput mereka ke kelas dan mengantar mereka ke rumah begitu sekolah libur.

Sudah lama sejak makanan terakhir dimasak di dapurnya. Saban hari mereka hidup dari chapati (roti) yang murah dan dalam anggaran keluarga yang kecil.

Hidup dalam bayang-bayang rumah-rumah yang lebih besar dan lebih makmur yang menjulang di atas kepala, mereka tidak berpikir lebih jauh lagi untuk menjalani hari ini. Hari Raya hanyalah mimpi.

“Tidak akan ada lemang, rendang, atau lampu untuk merayakan di sini,” kata Hamedah singkat.(fat/pojoksatu)