Terdampak Psikologis, Rachmawaty Dishub Makassar Pilih Cuti Kerja, Kadishub Bilang Pimpinan Harus Mengerti

Rachmawaty Dishub Makassar pemicu cinta segitiga berujung pembunuhan (ist1)

POJOKSATU.id, MAKASSAR – Rachmawaty Dishub Makassar yang terlibat perselingkuhan dengan Najamuddin Sewang dan Kasatpol PP nonaktif Iqbal Asnan akhirnya memilih cuti kerja.

Menurut Kadis Perhubungan Kota Makassar Iman Hud, dia sebagai pimpinan harus mengerti kondisi yang dialami oleh Kasi Transportasi Publik Kota Makassar, Rachmawaty.

Kadishub Kota Makassar, Iman Hud mengatakan Rachmawaty diberikan cuti sampai kondisinya siap kembali bekerja.

“Dia izin cuti karena pengaruh psikologis. Kami sebagai pimpinan harus mengerti,” singkat dia kepada JPNNcom (Grup Pojoksatu), Jumat (23/4).


Kadishub Iman Hud menambahkan semenjak Rachmawaty menjalani pemeriksaan sebagai saksi, tentu sangat berpengaruh terhadap psikologis dan kesehatannya.

“Dia diperiksa sebagai saksi dalam kasus ini. Mengenai cinta segitiga hanya mereka dan Allah SWT yang tahu,” tambahnya.

Kadis Iman Hud mengakui Rachmawaty dan Najamuddin Sewang merupakan petugas Dishub yang ulet dan rajin bekerja.

“Secara formal mereka bekerja bagus. Mereka tidak pernah membuat kesalahan selama ini,” terang dia.

Kadishub Kota Makassar Iman Hud juga menyayangkan beberapa meme yang dibuat di media sosial.

Hingga dimuat di aplikasi tiktok, terkait peristiwa kasus cinta segitiga yang menyeret pegawainya di Dishub Makassar.

Iman Hud mengatakan, dalam menyajikan informasi perlu ada yang difilter. Sehingga informasi yang disajikan tidak bersifat main hakim sendiri.

“Dibuat meme, dibuat tiktok, siapa yang dibebankan? Anaknya. Semakin kita ekspos ini peristiwa semakin mencederai perkembangan tumbuh anak,” ujar Iman Hud pada wartawan, Kamis (21/4).

Dari peristiwa Najamuddin Sewang pegawai Dishub Makassar, yang ditembak mati karena dituding menjalin cinta segitiga bersama wanita Rachmawaty.

Ada orang-orang yang terkena dampak secara psikologis. Salah satunya adalah istri dan anak Najamuddin Sewang, karena melihat orang tuanya di media sosial punya wanita lain.

Hingga psikologis anak Rachmawaty yang berusia 17 tahun.

Melihat ibunya dihujat mati-matian di sosmed.

“Inilah jangan mengejar tayang tetapi sisi kemanusiaan di pinggirkan. Jangan menghukum orang secara sosial. Itu lebih berbahaya daripada dihukum penjara,” kata Iman Hud.

“Kan kasihan anak R. Apalagi R statusnyakan single parents, kan dia bukan tersangka. Jadi kan ini sudah biasmi kemana-mana,” kata Iman Hud. (ral/jpnn/pojoksatu)