Usai Hengkang dari PSI, Tsamara Amany Langsung jadi Rebutan PKB dan Partai Golkar

Tsamara Amany Alatas

POJOKSATU.id, JAKARTA – Tsamara Amany Alatas menjadi rebutan dua partai politik besar yakni Partai Golkar dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Itu usai dirinya memutuskan keluar dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dengan posisi Ketua DPP.

Wakil Ketua Umum PKB Jazilul Fawaid menawarkan Tsamara untuk bergabung partainya.

Ia menyatakan partainya terbuka untuk Tsamara jika masih ingin terjun ke politik praktis.


“PKB selalu membuka pintu bagi pemimpin muda seperti Mbak Tsamara,” kata Jazilul saat dihubungi, Selasa (19/4/2022).

Wakil Ketua MPR RI itu mengatakan, partainya siap bermusyawarah terkait posisi yang diinginkan Tsamara.

“Soal posisi di mana, itu bisa dimusyawarahkan,” ujar Jazilul.

Demikian juga dengan Partai Golkar menyatakan siap menerima pentolan PSI itu jika ingin bergabung partainya.

Menurut Ketua DPP Golkar Jhon Kenedy, partainya terbuka apabila Tsamara nantinya memutuskan akan terjun kembali ke politik.

“Kalau Partai Golkar terbuka siapa pun bergabung,” kata Jhon saat dikonfirmasi, Selasa (19/4/2022).

Bahkan, anak buah Airlangga Hartarto itu mengajak Tsamara berjuang bersama-sama untuk kepentingan bangsa.

“Maju bersama-sama untuk kepentingan rakyat Indonesia, saya pikir Golkar welcome-welcome saja, enggak ada masalah,” ujarnya.

Asalkan, lanjut Anggota Komisi II DPR itu tidak melanggar aturan internal yang ada di partai Golkar.

“Partai yang paling terbuka itu Partai Golkar. Asal sesuai dengan pokok pikiran dari Partai Golkar,” ucapnya.

Sebelumnya, Tsamara Amany menyatakan mengundurkan diri dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Pengunduran diri Tsamara Amany itu tertanggal Senin (18/4).

Tsamara mengumumkan dirinya mundur dari PSI melalui video unggahan Youtube pribadinya.

Dia beralasan mundur dari PSI karena ingin mengabdi di luar partai politik.

“Selama lima tahun saya mengabdi di PSI sebagai Ketua DPP. Hari ini, Senin (18/4) saya memutuskan mengundurkan diri dari pengurus dan kader PSI,” kata Tsmara.

Dia mengambil keputusan ini atas dasar pertimbangan pribadi dan membutuhkan perjalanan baru di luar partai politik.

Namun, dia tetap tidak mengeyampingkan isu-isu dan pemberdayaan perempuan.

Tsamara menegaskan akan terus mengabdikan diri memperjuangkan kepentingan perempuan di luar jalur politik.

“Bukan berarti saya merendahkan peran atau efektivitas partai dan PSI dalam membawa perubahan,” ungkapnya.

Tsamara tetap percaya, jalur politik sangat memungkinkan menciptakan perubahan dalam skala besar.

Hanya saja, Tsamara masih membutuhkan eksplorasi baru di luar ranah politik. “Setidaknya untuk saat ini,” ujarnya.

(muf/pojoksatu)