Soal Kasus Korban Begal Jadi Tersangka, Praktisi Hukum Tuduh Penyidik Ceroboh

POJOKSATU.id, JAKARTA- Praktisi Hukum sekaligus Dosen Universitas Trisakti Azmi Syahputra mendukung penuh pernyataan dari Kabareskrim Komjen Pol Agus Andrianto, yang meminta kepada Polda NTB untuk segera menghentikan kasus korban begal Amaq Sinta (34).

Pasalnya tindakan korban begal yang menewaskan 2 pelaku begal demi pembelaan dirinya bukanlah sebagai pelaku tindak pidana.

“Perbuatan ini semestinya oleh penyidik sejak awal menjadi pengecualian dan harus dihentikan demi hukum. Tindakannya ini tidak dapat dihukum, atau malah melabeli status tersangka,” kata Azmi di Jakarta, Sabtu (16/4/2022).

Azmi juga menilai, dalam kasus ini yang harus disalahkam adalah penyidik. Sebab dalam hal ini penyidik kurang teliti dalam  l mencari dan mengumpulkan bukti dalam membela diri korban.


“Kalau penyidik teliti dan cermat semestinya akan membuat terang dan jelas atas peristiwa pidana ini, sehingga tidak menimbulkan dialektika publik seperti saat ini,” terang Azmi.

Sebagaimana diketahui, Amaq Sinta (34) dibegal oleh empat pelaku di Jalan Raya Desa Ganti, Kecamatan Praya Timur, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat pada Minggu (10/4/2022) lalu.

Amaq Sinta kemudian mencoba melakukan perlawanan hingga dua orang pelaku begal tewas bersimbah darah. Sementara dua lainnya melarikan diri. Akibatnya, Amaq Sinta yang semula menjadi korban kemudian ditetapkan sebagai tersangka.

Menanggapi itu, Kabareskrim Polri Komjen Pol Agus Andrianto pun meminta perkara kasus korban begal Amaq Sinta alias Murtade yang justru jadi tersangka untuk dihentikan Polda NTB.

“Hentikanlah menurut saya. Nanti masyarakat jadi apatis, takut melawan kejahatan. Kejahatan harus kita lawan bersama,” ujar Kabareskrim Komjen Agus Andrianto, Kamis (14/4).

Dia berharap tindakan yang dilakukan Polri dalam mengusut kasus jangan sampai merusak keadilan di tengah-tengah masyarakat.

“Itu jadi pedoman kita,” ujarnya

(fir/pojoksatu)