Banyak Korupsi di Sektor Pertanian, Para Paguyuban Petani Ini Dukung Firli Bahuri Maju Capres

Ketua KPK Firli Bahuri (kedua kanan) bersama Wakil Ketua Nurul Ghufron (kanan), anggota Dewan Pengawas Indriyanto Seno Adji (kedua kiri) dan Sekjen Cahya Hardianto Harefa (kiri) memberikan keterangan pers mengenai hasil penilaian Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) dalam rangka pengalihan pegawai KPK menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Rabu (5/5/2021). Dari 1351 pegawai KPK, sebanyak 1274 peserta berhasil memenuhi syarat dan 75 peserta tidak memenuhi syarat sementara dua orang tidak mengikuti tes. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/wsj.

POJOKSATU.id, JAKARTA- Paguyuban Petani Bawang Merah Kabupaten Bima mendeklarasikan dukungan terhadap Ketua KPK Firli Bahuri untuk maju sebagai presiden pada Pilpres 2024.


Dukungan tersebut disampaikan di area persawahan bawang milik mereka di Desa Kombo, Kecamatan Wawo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, Kamis (14/4).

Muhamad Yusuf, salah satu inisiator dukungan, menyebut Firli sosok yang tegas dalam menindak koruptor sehingga cocok untuk menjadi pemimpin bangsa.


“Tidak pilih-pilih juga, siapa pun ditangkap. Indonesia ini butuh pemimpin seperti beliau karena korupsi sekarang sudah di mana-mana,” kata Yusuf.

Menurut Yusuf, saat ini korupsi telah menjadi masalah utama yang harus segera diatasi bersamaan dengan persoalan kebutuhan pokok atau ekonomi.

Potensi dan celah korupsi ada di seluruh sektor pembangunan yang di dalamnya terdapat anggaran keuangan negara.

“Di pertanian ini banyak Pak, mulai bantuan benih bawang, bantuan pupuk, alat berat, sampai permainan harga jual,” ungkapnya.

Karena itu  kata dia, dampak korupsi sektor pertanian sangat terasa oleh petani. Bahkan mereka mengaku jadi pihak pertama yang langsung merasakan dampak korupsi.

“Pasti tekor, modal tinggi hasil panen murah, seperti tahun lalu harga bawang cuma Rp 5.000 per kilo dari biasanya Rp 15.000, kan tak masuk di akal,” tandas Yusuf.

Yang disayangkan, lanjut Yusuf, pemerintah atau pihak terkait selalu beralasan anjloknya harga disebabkan stok yang melimpah serta permintaan yang menurun.

Padahal permasalahannya, kata dia, itu bersumber dari banyaknya pihak yang korupsi dari sektor pertanian.

“Masalahnya, kenapa semua itu terjadi saat panen? Ini yang tidak bisa mereka jawab, dan saya yakin Pak Firli paham ini” ujarnya.

Hal senada disampaikan petanu lainnya, Syahrul. Ia yakin Firli dapat membasmi koruptor sektor pertanian di segala tingkatan jika diberi amanah memimpin negeri.

Purnawiran polisi bintang tiga itu dinilai telah terbukti berhasil menangkap koruptor kelas atas seperti dari kalangan menteri atau kepala daerah.

“Yang besar-besar sudah beliau tangkap, tapi koruptor benih, pemain pupuk, pemain harga ini belum ada yang sentuh,” tuturnya.

Ia sangat berharap korupsi benar-benar bisa teratasi dari negeri ini. Sebab pikirnya, rakyat tidak akan sejahtera ketika perilaku koruptif masih merajarela.

“Makanya harus Pak Firli yang pimpin,” pungkas Syahrul.

(fir/pojoksatu)