Tambah Panas, Arief Puyuono Minta Pemerintah Bubarkan IDI: Ini Cuma Menghambat Kemajuan Dokter Indonesia

Wakil Ketua Umum Gerindra Arif Puyuono. Foto via jpnn
Wakil Ketua Umum Gerindra Arif Puyuono. Foto via jpnn

POJOKSATU.id, JAKARTA – Mantan politikus Partai Gerindra Arief Puyuono memberikan pembelaan kepada dr Terawan Agus Putranto.

Ia meminta pemerintah membubarkan Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Pasalnya, kata Arief Puyuono pemecatan mantan Menteri Kesehatan (Menkes) itu dinilai tidak masuk akal.

“Bubarkan saja IDI,” kata Arief dalam keterangannya diterima Pojoksatu.id di Jakarta, Selasa (29/3/2022).


Arief Puyuono juga turut mengomentari terkait dengan ancaman pencabutan izin praktek dr Terawan.

Ia menilai, jika wewenang izin dokter berdasarkan rekomendasi IDI maka tidak akan ada kemajuan bagi dokter di Indonesia

“Ini menghambat kemajuan dokter Indonesia, kalau masih terjadi monopoli izin prkatek dokter oleh IDI,” ucapnya.

Arief Puyuono juga meminta pemerintah untuk menyerahkan wewenang izin praktek dokter kepada Kementerian Kesehatan.

“Dikontrol oleh Menkes saja jauh lebih bagus, sehingga tidak izin praktek seorang dokter lebih berkualitas jika dikeluarkan oleh pemerintah,” tandasnya.

Untuk diketahui, Mantan Menteri Kesehatan (Menkes) dr Terawan Agus Putranto dipecat secara permanen dari anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

dr Terawan dipecat lantaran salah satu alasannya karena ia mempromosikan Vaksin Nusantara sebelum penelitiannya benar-benar rampung.

Pemecatan dr Terawan itu tertuang dalam surat tertanggal 8 Februari 2022 Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Pusat IDI.

Surat pemecatan dr Terawan itu diungkap anggota IDI, Pandu Riono melalui akun Twitter-nya, @drpriono1, pada Sabtu (26/3/2022).

Dalam unggahan itu, terdapat foto surat pemecatan dr Terawan dari keanggotaan IDI.

Surat itu juga memuat lima ‘dosa’ dr Terawan yang menjadi alasan pemecatannya.

Pertama, Terawan belum menyerahkan bukti telah menjalankan sanksi etik sesuai SK MKEK tanggal 12 Februari 2018 hingga saat ini.

Kedua, Terawan melakukan promosi kepada masyarakat luas tentang Vaksin Nusantara sebelum penelitian vaksin tersebut selesai.

Keberadaan Vaksin Nusantara memang menjadi perdebatan dan polemik karena ketidakjelasannya.

Ketiga, Terawan bertindak sebagai Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Radiologi Klinik Indonesia (PDSRKI).

Pembentukan badan tersebut dibentuk tanpa melalui prosedur sesuai tatalaksana dan organisasi (ORTALA) IDI dan proses pengesahan di Muktamar IDI.

Keempat, Terawan menerbitkan Surat Edaran (SE) pada 11 Desember 2021.

Sura itu berisikan instruksi kepada seluruh ketua cabang dan anggota PDSKRI di seluruh Indonesia agar tidak merespons ataupun menghadiri acara PB IDI.

Kelima, Terawan mengajukan permohonan perpindahan keanggotaan dari IDI Cabang Jakarta Pusat ke IDI Cabang Jakarta Barat.

Salah satu syaratnya adalah mengisi form mutasi keanggotaan yang berisi pernyataan tentang menjalani sanksi organisasi dan/atau terkena sanksi IDI.

Pemecata dr Terawan dari keanggotaan IDI dilakukan berdasarkan keputusan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) IDI.

Putusan pemecatan dr Terawan itu dibacakan epiemiolog Pandu Riono melalui Instagram pribadinya, Sabtu (26/3/2022).

“Memutuskan, menetapkan, pertama, meneruskan hasil keputusan rapat sidang khusus MKEK yang memutuskan pemberhentian permanen sejawat dr Terawan Agus Putranto, SpRad(K) sebagai anggota IDI,” demikian bunyi putusan tersebut.

Keputusan pemberhentian Terawan itu akan dilaksanakan IDI selambat-lambatnya 28 hari setelah ditetapkan.

“ketiga, ketetapan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan,” katanya.

(muf/ruh/pojoksatu)