Dulu Langka Sekarang Minyak Goreng Mahal, Serikat Mahasiswa Sindir Pemerintah, Ini Malah Sibuk Urus Pemilu

Pengurus Besar Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (PB SEMMI)

POJOKSATU.id, JAKARTA- Minyak goreng kemasan yang langka di pasaran beberapa minggu lalu, sekarang sudah banyak ditemui di pasar hingga di ritel modern.

Namun kini harganya terbilang tinggi jika dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

Dengan harga minyak yang cukup tinggi, banyak pihak mendesak pemerintah agar bisa menstabilkan harga minyak goreng menjelang ramadhan.

Salah satunya desakan itu datang dari Pengurus Besar Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (PB SEMMI).


“Minyak goreng sekarang dikeluhkan masyarakat, banyak yang menjerit bukan hanya langka tetapi karena harganya mahal, Presiden Jokowi harus selesaikan ini segera sebelum bulan puasa dan ramadhan,” kata Ketua Umum Pengurus Besar Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (PB SEMMI) Bintang Wahyu Saputra kepada wartawan, Sabtu (26/3).

Menurut Wahyu, penstabilan harga minyak goreng itu merupakan kewajiban pemerintah didasarkan atas perintah Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 Tentang Pangan.

Dirinya pun secara tegas menyarankan agar Pemerintah untuk menghentikan segala bentuk kegiatan ekspor yang berkaitan dengan minyak goreng.

“Ini kita ngapain ekspor sih? Wong didalam negeri masih terjadi kelangkaan bahkan harga mahal. Harus dihentikan dong kegiatan ekspor yang berkaitan dengan minyak goreng,” ungkap Bintang

Dirinya pun menyampaikan jika Pemerintah tidak segera atasi kelangkaan dan tingginya harga minyak goreng, organisasinya akan menggerakkan people power.

“Minyak goreng itu kebutuhan utama rakyat, masalah dapur rakyat ini, ini memperihatinkan, harus segera selesai. Jika tidak, Saya akan gerakan massa, instruksikan organisasi bergerak secara besar-besaran pada 29 provinsi 117 kabupaten,” tandasnya.

Lebih lanjut Bintang pula menegaskan, seluruh pihak komponen bangsa baik legislatif maupun eksekutif untuk fokus menyelesaikan kelangkaan dan tingginya harga minyak goreng bukan fokus terhadap pemilu.

“Tolong urusi rakyat, tolong selesaikan masalah yang membuat rakyat menjerit, utamakan rakyat terlebih dahulu dong, saya heran dengan pihak-pihak yang justru terus menerus bicara tentang kekuasaan,” tegas Bintang.

(muf/pojoksatu)