Wanita Berjilbab yang Tabrak SPKT Polres Siantar Ternyata Anak Purn Polisi, Ibunya Juga PNS Polres

Kondisi SPKT Polres Pematangsiantar yang rusak ditabrak wanita berjilbab (ist)

POJOKSATU.id, SIANTAR— Fitri Arni Matondang (23) wanita berjilbab yang menabrakkan sepeda motornya ke Ruang SPKT Polres Pematangsiantar ternyata anak seorang purnawirawan polisi bernama Ajun Matondang.


Fitri Matondang nekat menabrakkan sepeda motornya ke markas Polres Pematangsiantar karena sakit hati terkait kasus Laskar FPI dan juga penangkapan Habib Rizieq Shihab.

Wanita bercadar Fitri Arni Matondang sengaja menyerang kantor polisi yang berada di Jalan Sudirman, Kota Pematangsiantar, dengan sepedamotor Honda Scoopy BK 5856 TAK, Senin (21/3) sekitar pukul 07.25 WIB.


Hasil pemeriksaan sementara, warga Jalan HOK Salamuddin Kelurahan Siantar Estate Kecamatan Siantar Kabupaten Simalungun itu melakukan hal itu karena sakit hati dengan polisi yang telah menembak Laskar FPI di Jakarta dan menangkap Habib Rizieq Shihab.

Pagi itu, sepedamotor Honda Scoopy yang dikendarai Fitri melaju kencang tidak terkendali dari arah Jalan Sutomo.

Lalu sepedamotor tersebut langsung masuk ke Mapolres Pematangsiantar dan menabrak pintu SPKT Polres Pematangsiantar.

Sedangkan Fitri yang terjatuh di ruangan SPKT hanya mengalami luka-luka.

Berdasarkan pemeriksaan polisi, diketahui Fitri merupakan putri dari pasangan suami istri (pasutri) Ajun Matondang (64) seorang purnawirawan Polri, dan Murniati Sinulingga (63) pensiunan PNS Polres Simalungun.

Sesuai pengakuan Fitri kepada polisi, ia berangkat dari rumahnya dengan mengendarai sepedamotor Honda Scoopy menuju Pesantren Mahabaturrosul SAW di Jalan Sidomulyo Kelurahan Simarimbun Kecamatan Siantar Marimbun Kota Pematangsiantar.

Tujuannya, mengundang pimpinan pesantren tersebur, Ustad H Syahban Siregar ke acara pernikahannya.

Dalam perjalanan menuju pesantren, tepatnya di Jalan Sutomo, ia melihat polisi sedang mengatur lalu-lintas. Saat itulah, timbul rasa bencinya kepada polisi dan langsung berniat melakukan penyerangan.

Selanjutnya Fitri mengendarai sepedamotornya dengan kecepatan tinggi dan menerobos gerbang hingga menabrak pintu kaca SPKT Polres Pematangsiantar.

Masih pengakuan Fitri, ia sakit hati terhadap polisi yang telah menembak Laskar FPI di Jakarta. Ia juga tidak terima terhadap Polri yang sudah menangkap Habib Rizieq Shihab.

Ia juga mengaku selama ini belajar agama melalui media sosial YouTube dengan menonton Channel Youtube Nabawi TV.

Fitri diketahui sudah dua kali menikah. Bahkan ia sudah menunaikan ibadah Umroh tiga kali, dan berencana Umroh kembali Agustus mendatang.

Ibu kandung Fitri, Murniati Sinulingga saat diperiksa polisi menerangkan, putrinya itu lulus dari SD Negeri 122351 Jalan Kertas Kelurahan Siopat Suhu Kecamatan Siantar Timur Kota Pematangsiantar.

Ia melanjut ke SMP Sultan Agung Jalan Surabaya Kelurahan Proklamasi Kecamatan Siantar Barat Kota Pematangsiantar.

Lulus SMP, Fitri melanjut ke SMA Sultan Agung. Namun kemudian pindah dari SMA Sultan Agung ke SMA Kartika karena menghina Patung Dewa Agama Buddha.

Masih keterangan Murniati, saat Fitri duduk di kelas 1 SMA tahun 2009 lalu ia pernah mengalami kecelakaan. Dan ketika duduk di kelas 3 SMA mulai bertingkah tidak wajar.

Lulus SMA tahun 2014, Fitri masuk ke UISU Medan Fakultas Kedokteran. Namun hanya bertahan 1 semester karena ia tidak mampu mengikuti pelajaran.

Keluar dari Fakultas Kedokteran, Fitri mulai berjualan tas secara online selama setahun.

Di tahun 2015, Fitri kembali kuliah. Ia masuk UISU Kabupaten Simalungun jurusan Agama Islam dan lulus tahun 2019 dengan gelar Sarjana Pendidikan Agama Islam (SPdI).

Di tahun itu juga, Fitri menikah dengan teman kuliahnya, Rudi Faisal. Namun ia mengalami KDRT dan melaporkan Rudi ke Polres Simalungun serta menggugat cerai.

Di tahun 2019, Fitri memilih masuk Pesantren Annur di Karangbangun, namun bertahan hanya 3 bulan karena tidak mau mengikuti peraturan pesantren.

Pelaku kembali menikah (nikah siri) dengan Wigi Tri Guna, seorang jemaat Tabligh asal Kota Binjai. Keduanya dijodohkan temannya ketika di pesantren.

Setelah menikah kembali, Fitri megikuti suaminya menetap di Binjai. Namun karena suaminya tidak memiliki pekerjaan tetap dan tidak menafkahinya, Fitri memilih berpisah.

Saat masih bersama, Wigi sempat menjual mobil milik Fitri.

Hingga kemudian, Wigi mengajak Fitri rujuk. Namun syaratnya, Fitri harus menikah terlebih dahulu dengan seorang lelaki lain.

Wigi pun memilih seorang pria dari Pekanbaru untuk menikahi mantan istrinya itu. (ral/pojoksatu)