Luhut Keburu Marah Besar dengan Haris-Fatia, Sudah Pasti Laporan Gak Bakal Dicabut

Luhut Binsar Panjaitan (ist)

POJOKSATU.id, JAKARTA – Menko Marves Luhut Binsar Panjaitan tampaknya sudah marah besar terhadap terhadap Haris Azhar-Fatia Maulidiayanti.

Karena itu, Luhut tidak akan mencabut laporannya di Polda Metro Jaya.

Pasalnya, telah banyak upaya damai yang dilayangkan Menko Marves itu digagalkan oleh terlapor.

“Ya bagaimana kita cabut laporan sudah diproses kok. Kita hormati proses hukum ini,” kata Kuasa hukum Luhut, Juniver Girsang dihubungi, Selasa (22/3/2022).


Ia menegaskan, pencabutan laporan atau proses damai antara kedua belah pihak sudah tak bakal dilakukan.

Itu karena sebelumnya pihaknya sudah semaksimal mungkin mencari jalan keluar di luar proses hukum meski tetap gagal.

Menurut Juniver, langkah Haris dan Fatia untuk mengklarifikasi pernyataan tidak pernah dilakukan meski sudah dua kali pihaknya mengirimkan surat.

“Sudah dua kali mengirimkan surat, malah membenturkan opini ke opini,” tuturnya.

Untuk diketahui, banyak pihak yang meminta Luhut Binsar Panjaitan mencabut laporannya agar kasus mereka berakhir damai.

Salah satunya, politisi Partai NasDem Taufik Basari mencabut laporannya terhadap Haris Azhar-Fathia Maulidiayati.

Menurutnya, kasus kedua belah pihak tersebut dapat diselesaikan dengan cara damai. Tanpa harus dipidanakan.

“Kasus seperti ini tidak semestinya diselesaikan dengan proses pidana,” kata Taufik dalam keterangannya, Senin (21/3/2022).

Anak buah Surya Paloh itu juga meminta Polda Metro Jaya untuk tidak memproses laporan Luhut tersebut.

Ia menekan agar pihak kepolisian lebih mengedepankan perdamaian atau restorative justice.

“Saya mendorong pihak kepolisian mendorong perdamaian melalui restorative justice,” ucapnya.

Setelah itu, lanjut Anggota Komisi III DPR RI itu kepolisian menindaklanjuti dengan memberikan ruang yang sepadan.

Itu untuk menjelaskan keterangan dari dua belah pihak terkait dengan laporan tersebut.

“Ini untuk menjelaskan keterangan versinya sebagai hak untuk membantah,” tutur Taufik Basari.

(muf/pojoksatu)