Aktivis HAM Asal Papua Ikut Komentari Penetapan Tersangka Haris Azhar dan Fatia

Haris Azhar mendatangi polda metro jaya sebagai tersangka pencemaran nama baik oleh terlapor Luhut Panjaitan

POJOKSATU.id, JAKARTA — Penetapan tersangka terhadap aktivis HAM, Haris Azhar dan Fatia Maulidiyanti dalam kasus dugaan pencemaran nama baik Luhut Panjaitan terus dikritik.

Aktivis HAM Papua, Natalius Pigai mengatakan, dalam kasus pencemaran nama baik, yang diduga dilakukan Haris dan Fatia, pelapor subjektif, dan penyidik dari Polda Metro Jaya kurang profesional.

Hal tersebut disampaikan Pigai menanggapi keterangan yang dilontarkan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Endra Zulpan, yang mengatakan jika penyidik melihat fakta hukum dalam penetapan tersangka terhadap kedua aktivis tersebut.

Menurut Natalius Pigai, kalau dasar pencemaran nama baik keduanya, seharusnya polisi menyelidiki juga penulis laporan penelitian, bukan Haris dan Fatia yang membaca laporan.


“Apa bedanya yang tertulis dan terucap. Keduanya sama. Di situ pelapor subjektif dan penyidik kurang profesional,” tulis Natalius Pigai di akun Twitter miliknya @NataliusPigai2, Senin (21/3/2022).

Sebelumnya, Polisi membantah penetapan Haris Azhar dan Fatia Maulidiyanti sebagai tersangka kasus dugaan pencemaran nama baik Luhut bermuatan politis.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Endra Zulpan mengatakan penyidik sudah memiliki minimal dua alat bukti untuk menjerat keduanya sebagai tersangka.

“Penyidik ini bekerja berdasarkan fakta hukum. Kami tidak pernah melihat faktor lain terutama apa yang mereka sampaikan politis dan sebagainya,” kata Kombes Zulpan di Polda Metro, Jakarta Selatan, hari ini.

Dia menyampaikan bahwa penyidik menetapkan Haris dan Fatia Maulidiyanti sebagai tersangka setelah kasus tersebut berjalan lima bulan.

Dalam menetapkan tersangka, polisi tidak tergesa-gesa dan penuh pertimbangan.

Zulpan juga mengatakan, polisi telah melakukan restorative justice atau mediasi dalam penyelesaian kasus tersebut. Namun, dalam beberapa kali mediasi, tidak ada titik temu dari kedua belah pihak.

“Dari beberapa mediasi yang dilakukan ini tidak ditemukan sehingga pada Jumat lalu penyidik menetapkan mereka berdua sebagai tersangka,” kata Kombes Zulpan. (ral/pojoksatu)