Mendag Lutfi Nyerah ke Mafia Minyak Goreng, Abu Janda: Bukti Negara Kalah, Mundur saja Pak

Permadi Arya alias Abu Janda

POJOKSATU.id, JAKARTA- Pegiat media sosial Permadi Arya alias Abu Janda angkat suara terkait pernyataan Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi.

Lutfi meminta maaf karena tidak bisa mengontrol mafia minyak goreng.

Menurut Abu Janda, pertanyaan Mendag Lutfi tersebut membuktikan bahwa negara kalah melawan mafia.

“Sama saja bapak mengatakan negara kalah sama mafia minyak goreng,” tulis Abu Janda diakun Instagramnya dikutip Pojoksatu.id, Sabtu (19/3/2022).


Seharusnya, lanjut Abu Janda, Mendag Lutfi tidak mengatakan hal tersebut karena persoalan minyak goreng masalah yang serius.

“Ini serius lho pak, menyangkut kemaslahatan banyak orang,” tuturnya.

Karena itu, pria dikenal kebal hukum itu meminta Mendag Lutfi untuk segera mengundurkan diri dari jabatannya.

“Jadi kita terima permintaan maaf bapak, dan kita tunggu pengunduran diri bapak. Terima Kasih. Ttd. Rakyat,” pungkasnya.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengakui tidak dapat melawan penyimpangan minyak goreng.

Itu yang dilakukan para mafia dan para spekulan, karena keterbatasan kewenangannya dalam undang-undang.

Hal tersebut disampaikan Lutfi saat rapat kerja dengan Komisi VI DPR di Komplek Parlemen, Jakarta, Kamis (17/3/2022).

Mendag juga menyampaikan data pasokan minyak goreng hasil domestik market obligasi (DMO).

Ia mengatakan DMO sebanyak 720 juta liter dan telah didistribusikan mencapai 570 juta liter.

Dari total tersebut, kata Lutfi, pasokan minyak goreng ke Sumatera Utara periode 14 Februari hingga 16 Maret 2022 mencapai 60.423.417 liter.

Sementara data BPS-nya pada 2021 jumlah masyarakat Sumut mencapai 15,18 juta orang

“Jadi kalau dibagi, setara dengan 4 liter per orang dalam sebulan,” ungkapnya.

“Kemudian di Kabupaten Medan itu dapat 25 juta liter dan menurut data BPS mencatat 2,5 juta oran,” sambungnya.

Sehingga satu orang menurut itungan dapat 10 liter.

“Lalu saya pergi ke Kota Medan, saya pergi ke pasar, saya pergi ke supermarket tidak ada minyak goreng,” sambung Lutfi.

Menurut Lutfi, banyaknya pasokan minyak goreng tetapi tidak ada di pasar maupun supermarket, tidak hanya di Sumatera Utara saja tetapi terjadi juga di Jakarta dan Surabaya, Jawa Timur.

Di Jakarta, mendapat pasokan minyak goreng mencapai 85 juta liter dengan jumlah penduduk sebanyak 11 juta orang, dan Surabaya mencapai 91 juta liter minyak goreng.

“Jadi spekulasi kami, deduksi kami adalah ini ada orang-orang yangg mendapat, mengambil kesempatan di dalam kesempitan,” ucapnya.

“Tiga kota ini apa yang didominasinya adalah satu industri ada di sana, kemudian kedua ada pelabuhan,” paparnya.

Lutfi menyebut, minyak goreng yang seharusnya dinikmati masyarakat, tetapi ada yang diekspor secara ilegal melalui pelabuhan-pelabuhan.

(muf/pojoksatu)