Pemulihan Ekonomi Kreatif Pascakrisis Perlu Perhatian Khusus dan Jadi Pembahasan Resmi U20

Pemulihan Ekonomi Kreatif Pascakrisis Perlu Perhatian Khusus dan Jadi Pembahasan Resmi U20

POJOKSATU.ID, Kota Bandung – Bertempat di Gedung Merdeka Jalan Asia Afrika Kota Bandung,  berlangsung event CONNECTI:CITY 2022.

CONNECTI:CITY 2022 mengambil tema “People And The Next Economy – Recovering Together”. Acara serupa pernah dilaksanakan pada tahun 2019 dan 2021 yang diikuti lebih dari 500 peserta.

CONNECTI:CITY 2022 merupakan rangkaian dari Road to Presidensi G20 yang mengambil tema besar “Recover Together – Recover Stronger”.

Kegiatan ini dilakukan secara hibrida dan dihadiri oleh 22 pembicara internasional dan 16 pembicara nasional. Acara ini juga mendapat dukungan internasional dari British Council (Inggris).


Adapun tujuan CONNECTI:CITY 2022 memperingati momentum solidaritas Asia Afrika, dan arsip Konferensi Asia Afrika sebagai warisan dunia dengan pengembangan jejaring ekonomi kreatif nasional dan internasional dalam upaya pemulihan ekonomi.

Selain itu dilakukan kerja sama, sinergi, dan kolaborasi dalam pengembangan kota kreatif dan ekonomi kreatif berupa dukungan promosi, inovasi, dan kapasitas pelaku usaha kreatif Jawa Barat untuk go international melalui event G20 Indonesia 2022.

Hasil CONNECTI:CITY 2022 ini diharapkan terbentuk jejaring, kerja sama, sinergi dan kolaborasi ekonomi kreatif Jabar secara nasional, maupun internasional, dan disampaikan rekomendasi pengembangan ekonomi kreatif terutama untuk negara-negara di bagian selatan dunia (global south) kepada Sherpa G20.

Dalam diskusi panel hari pertama, Senin (14/03/2022),  dihadiri sejumlah pembicara internasional yang hadir di lokasi, juga melalui daring.

Angelika Frei Oldenburg Head of Project GIZ menyatakan, sektor ekonomi kreatif menunjukkan pertumbuhan yang signifikan setiap tahunnya, bahkan ditengah krisis COVID-19.

Sektor ini masih mampu memberikan penghasilan tinggi bagi pelakunya, merekrut pekerja, bahkan bagi para pemula.

“Kami mulai menginfeksi (industri kreatif) pada 2018, berfokus pada pengembangan kapasitas pelaku dan memperkuat ekosistem di beberapa negara Afrika Selatan, Senegal, Kenya, Irak, dan Yordania dengan fokus pada animasi, musik dan mode,” ujar Angelika.

Dengan munculmya pandemi COVID-19 kembali memukul industri kreatif binaan mereka, yang kehilangan pendapatan dari tahun ke tahun lebih dari 70 persen. Industri musik yang paling terasa dampaknya.

“Tak ada lagi pemasukan tetap, demikian pula industri gim dan desain digital,” tuturnya.

Angelika berharap di masa depan akan ada internet murah dan teknologi digital yang mudah diakses sebagai bentuk bantuan bagi industri kreatif yang terdampak krisis. Peluang pasar pun harus kembali dibuka antar negara peserta G20.

Prateek Kukreja – Fellow, Indian Council for Research on International Economic Relations (ICRIER) mengatakan, industri kreatif India merekrut 14 persen tenaga kerja di negaranya dengan pangsa pasar mencapai 36 miliar Dolar AS.

“Musik dan Bollywood menjadi bentuk industri kreatif terbesar di India, kemudian wisata spiritual dan beberapa bangunan menjadi wisata dunia yang diakui UNESCO. Namun kini defisit sekitar 14,3 miliar Dollar AS,” kata Prateek.

Menurutnya sangat penting bagi Indonesia dan India untuk membawa isu pemulihan ekonomi kreatif ke Presidensi G20.

“Sekarang waktu yang tepat untuk mendorong recovery industri kreatif menjadi prioritas Presidensi G20,” ujar Prateek.

Reiner Kern, Cities of Music Coordinator UNESCO Creative Cities Network (UCCN) mendukung pernyataan dua panelis tersebut.

Menurut Reiner sangat realistis membawa masalah ini di G20 untuk memulihkan sektor ekonomi kreatif.

“Pengembangan kapasitas pelaku kreatif juga harus diperhatikan. Di sisi lain, keberpihakan pemerintah setempat juga harus menjadi perhatian dengan memberi dukungan pada pengembangan kota kreatif, seperti Bandung,” tutur Reiner.

Dwinita Larasati – Deputi Bidang Kerja Sama Stretegis, Indonesia Creative Cities Network (ICCN) mengatakan, di Indonesia, ekonomi kreatif mendapatkan momentum terutama sejak tahun lalu ketika Indonesia memulai dorongan untuk menciptakan lebih banyak platform kreatif.

“Ekonomi kreatif memberi peluang keuntungan yang potensial yang sama bagi siapa saja untuk bekerja tanpa menghentikan pekerjaan lainnya,” ujar Dwinita.

Menutup diskusi, Nicolas J.A. Buchoud President Grand Paris Alliance, Fellow of the Global Solutions Initiative menegaskan perlunya kementerian yang khusus membawahi industri ekonomi kreatif di negara-negara G20.

“Siapa di pemerintahan atau pemda yang bertanggung jawab, menginformasikan dan mendukung sektor kreatif, serta melakukan koordinasi dengan berbagai pihak,” jelas Nicolas.

Ia juga berharap hak-hak dasar pelaku kreatif seperti hak kekayaan intelektual semakin diperhatikan, terutama di masa revolusi digital.

(adv/dia/pojoksatu)