Ini Tanggapan Ketua Dukun Soal Penyatuan Tanah dan Air di IKN Nusantara, Katanya Perlu Diperbaharui 100 Tahun Sekali

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyerahkan air dan tanah dari 27 kabupaten/ kota

POJOKSATU.id, JAKARTA— Ketua Persatuan Dukun Nusantara Gus Abdul Fatah menanggapi proses penyatuan tanah dan air Kendi Nusantara di IKN Nusantara oleh Presiden Jokowi.

Menurut Ketua Umum Persatuan Dukun Nusantara (Perdunu) Indonesia ini, prosesi leluhur seperti ini harus dilakukan setiap 100 tahun sekali.

Dan di tahun 2022 ini, merupakan waktu yang tepat untuk memperbaharui penyatuan tanah dan air tersebut.

Diketahui, Presiden Jokowi melakukan prosesi Kendi Nusantara atau menyatukan tanah dan air dari berbagai provinsi untuk memulai pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.


Menurut Persatuan Dukun Nusantara (Perdunu) Indonesia, hal itu lumrah dilakukan leluhur di Nusantara ini.

Gus Abdul Fatah Hasan mengatakan, prosesi penyatuan tanah dan air di nusantara ini sudah dilakukan oleh para leluhur sejak zaman dahulu.

Hal ini tercatat di beberapa literatur persatuan nusantara.

Pada zaman lelulur, kata Abdul Fatah Hasan, Syeh Subakir pernah melakukan hal ini untuk ketentraman Nusantara.

“Kayak Syeh Subakir itu dulu, biar tentram negeri ini ada sesuatu yang ditanam. Dan prosesi itu harus ada pembaharuan selama 100 tahun sekali,” katanya, Senin (14/3/2022).

Pada zaman dahulu, kehidupan manusia ini bergandengan dengan alam supranatural. Sehingga, diperlukan keselarasan dan harmonisasi antara alam milik manusia dan alam yang lain.

“Sudah pasti karena memang kita hidup berdampingan dengan alam supranatural. Dan ada yang membersamai kita,” katanya.

“Dan itu perlu kita menghormati, sehingga muncul harmonisasi alam dan cita-cita memperbarui semangat persatuan dan kesatuan bangsa,” tambahnya.

Prosesi leluhur ini, menurut Abdul Fatah, harus dilakukan setiap 100 tahun sekali. Dan di tahun 2022 ini, merupakan waktu yang tepat untuk memperbaharui.

Terkait siapa yang tepat melakukan penyatuan tanah dan air itu, kata Abdul, haruslah orang yang tepat.

“Saya kira yang tepat adalah Pak Jokowi. Karena prosesi pembaharuan ini dilakukan 100 tahun sekali. Mungkin 100 tahun lagi juga akan ada tokoh seperti Pak Jokowi,” pungkasnya.

“Ini lumrah dilakukan oleh leluhur kita di nusantara. Ada yang tercatat dan tidak tercatat. Namun tujuannya adalah menyatukan keutuhan nusantara. Ini sebagai penegasan yang diaktualkan oleh presiden kita Pak Jokowi,” ujarnya.(ral/pojoksatu)