Fahri Hamzah Sesalkan Tindakan Densus 88 Tembak Mati Dokter Sunardi: Polisi Tidak Bisa Semena-mena Melakukan Tindakan Terukur

Fahri Hamzah anggap kasus Andi Arief isap sabu tak usah dibesar-besarkan
Fahri Hamzah

POJOKSATU.id, JAKARTA – Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah angkat suara terkait penembakan terduga teroris Dokter Sunardi oleh Densus 88.


Fahri tampak menyesalkan tindakan Densus 88 tersebut.

Pasalnya, berdasarkan UU polisi tidak bisa semena-mena melakukan tindakan terukur.


“Dalam sistem hukum demokratlsi (pasal 1 UUD45) PEMERINTAH diwakili oleh POLISI dan JAKSA berhadapan dengan RAKYAT,” tulis Fahri Hamzah, di akun Twitter pribadinya @Fahrihamzah, Jumat (11/3/2022).

“Kemudian diwakili oleh PENGACARA dan diputuskan oleh WAKIL TUHAN yang bernama HAKIM,” sambungnya.

Oleh karena itu, mantan Wakil Ketua DPR RI itu menilai keputusan membunuh tidak boleh dilakukan sebelum diputuskan oleh hakim.

“Keputusan menghukum apalagi membunuh tidak boleh dilakukan oleh selain WAKIL TUHAN,” tutur Fahri Hamzah.

Sebelumnya, Dokter Sunardi, terduga teroris di Sukoharjo yang ditembak Densus 88 Antiteror, berusaha kabur saat akan ditangkap.

Tindakan tegas terukur terpaksa dilakukan lantaran dokter Sunardi membahayakan pengguna jalan lain dan petugas.

Dokter Sunardi disebut pernah menjabat sebagai amir khidmat dengan jabatannya adalah deputi dakwah dan informasi Jamaah Islamiyah (JI)

Dokter Sunardi juga menjabat sebagai penanggung jawab dalam kepengurusan Hilal Ahmar Society Indonesia (HASI).

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Ahmad Ramadhan menjelaskan:

tindakan tegas terpaksa dilakukan karena tersangka membahayakan jiwa masyarakat dan petugas.

Saat akan ditangkap, Sunardi melakukan perlawanan agresif.

Sunardi mengemudikan mobil yang ia kendarai dengan cara zig zag.

Sementara tembakan peringatan oleh Densus 88 Antiteror tak diindahkan oleh yang bersangkutan.

Akhirnya, tim Densus 88 Antiteror harus naik ke bak belakang kendaraan Sunardi yang saat itu mengendarai mobil pick up.

Setelah itu, petugas kembali memberikan tembakan peringatan dari jarak dekat.

Lagi-lagi, dokter Sunardi tak menggubris tembakan peringatan petugas.

Sebaliknya, yang bersangkutan malah tancap gas dan melajukan kendaraannya dalam kecepatan tinggi.

Untuk menjatuhkan petugas yang sudah ada di bak belakang, Sunardi menggoyang-goyangkan mobilnya ke kiri dan kanan.

Akibatnya, mobil Sunardi sempat menabrak kendaraan lain yang kebetulan melintas.

Karena situasi yang dinilai dapat membahayakan jiwa petugas dan masyarakat, aparat terpaksa melakukan tindakan tegas terukur.

“Dengan melumpuhkan tersangka dan mengenai di daerah punggung atas dan bagian pinggul kanan bawah,” jelasnya.

Setelah dilumpuhkan, Sunardi langsung dilarikan ke RS Bhayangkara Polresta Surakarta untuk menjalani perawatan medis.

Akan tetapi, Sunardi akhirnya meninggal dunia saat dievakuasi.

Dalam penangkapan ini, kata Ramadhan, dua anggota Polri ikut terluka dan saat ini masih mendapat perawatan di klinik Bhayangkara.

(muf/ruh/pojoksatu)