Silaturrahim ke Ponpes Al Ubaidah, MUI Jakarta Semangati Para Santri, Jadilah Mubaligh yang Berdakwah Karena Allah

Silatrurahmi Pengasuh Ponpes Al Ubaidah, Kyai Ubaidillah Al Hasaniy, didampingi Ketua DPD LDII Nganjuk, Murkani

POJOKSATU.id, JAKARTA- Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta, Kyai Munahar Muchtar silaturahim ke Pondok Pesantren (Ponpes) Al Ubaidah Kertosono pada Kamis (3/3).


Ia berkunjung ke pesantren tersebut, usai menyerahkan bantuan korban erupsi Gunung Semeru kepada MUI dan DPD LDII Lumajang di kantor DPW LDII Jawa Timur.

Dalam kunjungan silaturrahim itu ia disambut oleh Pengasuh Ponpes Al Ubaidah, Kyai Ubaidillah Al Hasaniy, didampingi Ketua DPD LDII Nganjuk, Murkani, dan para pengurus ponpes lainnya.


Dalam sambutannya itu Kyai Ubaidillah memuji Kyai Munahar yang merupakan seorang kyai yang gemar silaturahim.

“Silaturahim memperbanyak rezeki dari Allah, dan Allah memanjangkan umur,” kata pria yang biasa disapa Kyai Ubaid dalam keterangannya, Jumat (4/3/2022).

Menurut Kyai Ubaid, para santri yang ada di sini merupakan para calon juru dakwah yang bakal menjadi muballigh dan muballighoh.

Jadi tak heran jika kedepannya para dai akan dihadapkan dengan berbagai tantangan

“Mereka masih satu pemahaman dan satu cita-cita. Persoalannya bila mereka sudah terjun di tengah-tengah masyarakat, mereka akan banyak menghadapi tantangan,” paparnya.

Di era media sosial, kata Kyai Ubaid pilar kebangsaan terancam faham radikalisme. Karena itu Kyai Ubaid meminta Kyai Munahar untuk berceramah memberikan bekal wawasan agar ke depannya para santri tetap istiqomah dalam berdakwah.

Dalam ceramahnya Kyai Munahar mengingatkan di zaman sekarang ini tugas muballigh dan muballighoh makin berat.

“Saya sama dengan kalian, menimba ilmu dan ditempa dengan ilmu pengetahuan. Tak ada yang mudah dalam meraih cita-cita, tapi dengan kesungguhan keberhasilan itu bisa diraih,” paparnya.

“Kita ini umat akhir zaman, juru dakwah itu profesi mulia karena berani mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran,” tegasnya.

Kyai Munahar juga mengingatkan, mmuballigh dan muballighoh itu beragam pembawaannya serta seorang juru dakwah itu harus menyampaikan selaras dengan kecerdasan umat

“Kalau umat yang dituju adalah petani, maka berdakwahlah melalui pertanian. Bila yang didakwahi teknokrat, maka juru dakwah harus bisa menjelaskan secara teknokrat,” ujarnya.

Kyai Munahar juga mengingatkan supaya berdakwah selalu disertai niat karena Allah, bukan karena uang atau harta.

“Lihatlah juru dakwah yang berdakwah karena uang, dua tahun mereka menganggur karena pandemi Covid-19. Taka da panggilan untuk berceramah,” ujarnya.

Selain itu, kata dia, dakwah juga harus dilakukan dengan lemah lembut dan berakhlak mulia. Dakwah juga sifatnya tidak memaksa tapi mendidik.

“Tirulah Nabi Muhammad, tidak mendendam bila disakiti, diam ketika dicaci,” ujarnya. Kesabaran tersebut penting, agar umat Islam merasa sejuk.

Menutup tausiyah itu Kyai Munahar, Kyai Ubaid menambahkan bahwa mempunyai angan, harapan dan cita-cita menjadi seorang dai-daiyah atau muballigh dan muballighoh itu sangat mulia.

Karena balasannya mendapat penghargaan langsung dari Rasulullah SAW seperti dalam sabdanya Nabi SAW.

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mencari ilmu dan mengajarkannya. Juga seperti sabda Nabi pula, Sebaik-baik manusia adalah orang yang mampu memberi manfaat pada manusia lain,” kutip hadis Nabi.

(fir/pojoksatu)