Keppres Hilangkan Peran Soeharto Dikaitkan Dendam Loyalis Bung Karno

Fahri Hamzah (ist)

POJOKSATU.id, JAKARTA – Keputusan Presiden (Keppres) No 2 Tahun 2022 yang mengilangkan peran Soeharto dalam sejarah Serangan Umum 1 Maret 1949 dikaitkan dengan dendam loyalis Bung Karno.


Keppres itu disebut-sebut sebagai bentuk balas dendam kepada rezim Soeharto yang dianggap membelokkan sejarah Bung Karno.

Mantan Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah Bung Karno dan Soeharto merupakan sosok yang pernah dipuja-puja, namun di akhir kekasannya justru berakhir pilu.


Fahri mengatakan dari seluruh pemimpin Indonesia, sebagiannya adalah para pendiri bangsa.

Jika berbicara karya-karyanya mereka memang luar biasa. Tapi kalau berbicara akhir kehidupan mereka, terlalu banyak kisah sedih yang harus dijadikan pelajaran bagaimana mengakhiri kekuasaan secara baik dan bijaksana.

“Sekarang, coba kita lihat nasib Bung Karno Presiden pertama kita. Proklamator pendiri bangsa yang luar biasa. beliau memang memiliki modal sebagai orang besar tidak saja dikenal di dalam negeri, bahkan di seluruh dunia. Namanya menjadi nama jalan-jalan di Asia dan Afrika,” kata Fahri Hamzah, dikutip dari akun Twitternya, Jumat (4/3).

BACA: Fadli Zon Anggap Kepres Hilangkan Soeharto dari Sejarah Itu Fatal, Harus Direvisi

Fahri menyebut Bung Karno pemimpin dunia, seorang intelektual yang memukau zaman.

“Tetapi setelah 20 tahun berkuasa sikap bangsa kita kepadanya berakhir buruk dan menciptakan kisah yang memilukan. Sampai sekarang, belum selesai jua. Anak cucu dan loyalis melanjutkan cerita yang belum selesai,” jelas Fahri.

Mantan Presiden Soeharto pun demikian. Awalnya ia dipuja sebagai penyelamat bangsa dari perpecahan dan komunisme.

Soeharto juga dianggap sukses karena kemampuan manajerialnya, sampai-sampai orang membuat kajian tentang gaya manajemen seorang “the smiling general” itu.

“Dan bagaimana kita mengakhiri beliau setelah 30 tahun berkuasa? sesuatu yang perih dan menciptakan rasa sakit yang tidak selesai sampai sekarang kepada pengikut setia beliau dan juga anak keturunannya. Terakhir kita dengar ada yang coba menghapus jejaknya dalam sejarah bangsa,” beber Fahri.

BACA: Heboh Peran Soeharto Dihapus, Fahri Hamzah: Stop Permainan Ini, Konyol

Dijelaskan Fahri, Bung Karno dan Pak Harto, mungkin di antara presiden yang paling menelan pahitnya pengkhianatan.

Berbaliknya sikap kroni yang tadinya memuja Bung Karno dan Soeharto setinggi langit, ternyata berakhir dengan penolakan yang massif.

“Beliau berdua mungkin karena paling lama berkuasa, lalu terjadi distorsi generasi. Lahirlah generasi mahasiswa yang memaki dan memintanya turun paksa. Jika Bung Karno diberi gelar pahlawan baru di zaman presiden SBY, Pak Harto masih ditolak sampai sekarang. Dendam belum selesai,” tegas Fahri.

Presiden pertama dan kedua Republik Indonesia itu masih mengalami sikap tidak wajar sampai sekarang.

“Kita tidak tahu sikap tak wajar ini akan berlangsung sampai kapan, tapi sepertinya antara orde baru dan orde lama terus mewariskan sikap tidak wajar karena sama-sama berkuasa lama,” katanya.

Presiden ketiga BJ Habibie, kata Fahri, mungkin satu-satunya presiden yang dianggap berakhir dengan sangat baik pada transisi pemerintah Indonesia.

Meski demikian, Habibie awalnya tetap saja mendapat perlakuan yang tak wajar karena dianggap pewaris dari rezim orde baru yang tumbang di tengah jalan.

“Meski pak Habibie sukses membawa Indonesia keluar dari dua krisis besar, sinisme kepada beliau dan upaya kudeta elite yang makin kasar tak redup-redup,” imbuhnya.

Sebagai bagian dari gerakan mahasiswa pada masa itu, Fahri mengaku menyaksikan sendiri bagaimana elit dan mahasiswa berkolaborasi menjatuhkan Presiden.

Padahal, hanya dalam waktu kurang setahun, Habibie berhasil menuntaskan krisis politik dengan menyelenggarakan pemilu yang hasilnya diterima secara luas.

Selain itu, Habibie juga berhasil memulihkan ekonomi setelah dihantam krisis moneter besar pada tahun 1997-1998.

“Semua prestasi itu tidak membuat beliau diterima, bahkan Sidang Istimewa MPR tahun 1999 menolak pidato pertanggungjawaban presiden Habibie. Maka dengan alasan itu, kelompok yang tak menghendaki beliau menganggap beliau harus segera berakhir karena dianggap gagal,” tandas Fahri. (one/pojoksatu)