Pulang Ngopi, Pemuda Jadi Korban Salah Tembak di Kramatjati, Ibu Korban: Usus Anak Saya Berlubang

POJOKSATU.id, JAKARTA- Seorang pemuda berusia 19 tahun diduga jadi korban salah tembak. Nama pemuda itu adalah Fadillah Rafi.

Ibunda dari korban (Rafi), Musliari mengungkap anaknya kini masih terbaring di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

Kata sang ibu, menurut keterangan dokter, anaknya mengalami luka pada bagian usus akibat kejadian ini.

“Operasinya kalau tidak salah tiga sampai empat jam. Ada lubang di usus,” kata dia saat dikonfirmasi, Rabu 16 Februari 2022.


Dia menyebut, kejadian ini terjadi pada 11 Februari 2022.

Saat sepulang bekerja, anaknya pamit untuk pergi lagi, ngakunya ingin mau ngopi sama teman-temannya

Saat akan pulang dan melewati kawasan Kramatjati, Jakarta Timur. Di sana, ia berhenti sejenak karena tidak bisa lewat lantaran ada tawuran warga.

“Di Kramatjati, tepatnya didepan Gedung Jasamarga menurut temannya ini kebetulan ada tawuran warga. Anak saya ini meminggirkan motornya tiba-tiba melesat itu (peluru) kena perut anak saya,” kata dia.

Rafi lantas jatuh tak sadarkan diri. Temannya itu sempat membawa Rafi ke beberap Rumah Sakit dan puskemas namun ditolak.

Akhirnya Rafi dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo setelah berbagai RS dan puskemas menolaknya. Y

Yang membawa Rafi adalah temannya itu. Kemudian dirinya dikabari oleh teman anaknya itu.

“Temannya ini telepon temannya yang bawa mobil untuk bawa Rafi. Saya dihubungi temannya ini bilang Rafi di RS,” ujarnya.

Lebih lanjut dia mengaku, dirinya telah membuat laporan polisi ke Polda Metro Jaya.

Laporan pun diterima dengan nomor LP/B/748/II/2022/SPKT/Polda Metro Jaya, tanggal 11 Februari 2022.

Sang ibu tidak tahu-menahu siapa yang melepaskan tembakan saat tawuran warga itu hingga akhirnya mengenai perut anaknya.

Namun, dia berharap sosok yang melakukan penembakan ini bisa terkuak dan dihukum.

Dia meminta keadilan atas apa yang menimpa anaknya. Belum lagi kini dia kebiungan harus membayar tagihan RS yang mencapai ratusan juta rupiah.

Musliari mengaku tak sanggup membayar karena cuma pekerja serabutan. Suaminya sudah tidak bekerja karena sakit jantung.

“Jadi, anak saya itu tulang punggung keluarga. Dia baru kerja tiga bulan,” ucap Ari lagi.

(dhe/pojoksatu)