Edy Mulyadi Disebut-sebut Jadi Incaran Rezim Ini? Begini Reaksi Mabes Polri

Irjen Dedi Prasetyo (ist)

POJOKSATU.id, JAKARTA- Kadiv Humas Mabes Polri, Dedi Prasetyo membantah perihal pernyataan Edy Mulyadi yang menyebut dirinya menjadi target penangkapan kasus ujaran kebencian.


Penetapan tersangka hingga Penahanan Edy Mulyadi, kata dia, sudah sesuai dengan proses dan fakta hukum yang ada.

“Dalam hal ini (penahan Edy Mulyadi) polisi bekerja sesuai fakta hukum. Kita punya aturan-aturan penegakan hukum sesuai dengan UU Pidana,” kata Dedi di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (2/2/2022).


Menurut Dedi, kalau memang ada pihak keberatan atas proses hukum yang menjerat Edy Mulyadi harus disampaikan dalam bentuk pengajuan penangguhan penahanan atau pun prapradilan.

Hal tersebut justru sesuai dengan prosedur proses hukum yang ada.

“(Tidak istilah target) Diatur semuany disitu, kalau memang ada yang keberatan ada prapradilan,” ujar Dedi.

Sebelumnya, wartawan senior Edy Mulyadi mengklaim dirinya memang sudah lama menjadi incaran bidikan rezim ini.

Ia mengaku dirinya menjadi incaran bukan karena mengkritisi Ibu Kota baru, namu karena ia lantang mengkritisi segala kebijakan pemerintah yang bertentangan dengan Undang-undang.

“Saya dibidik bukan karena ucapan bukan karena ‘Tempat Jin Buang Anak’. Saya dibidik bukan karena ‘Macan yang Mengeong’. Saya dibidik karena saya terkenal kritis,” kata Edy Mulyadi di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Senin (31/1/2022).

Salah satu kebijakan pemerintah yang kerap dikritisi itu, kata dia, perhan mengkritisi RUU Omnibuslaw. Saya mengkritisi RUU Minerba dan mengkritisi Revisi UU KPK.

Atas hal itulah, kata Edy, ia menjadi target penangkapan selanjutnya oleh rezim ini, karena dinilai mengganggu kepentingan penguasa.

“Jadi saya bahan inceran karena podcast saya sebagai orang FNN dianggap mengganggu kepentingan para oligarki,” ujarnya.

Bareskrim Polri sendiri telah menetapkan tersangka Edy Mulyadi terkait kasus ujaran kebencian Ibu Kota Negara (IKN) baru sebagai ‘tempat jin buang anak’.

Dari penetapan tersangka, Edy Mulyadi langsung dilakukan penahanan selama 20 hari kedepan terhitung sejak Senin (31/1/2022).

Atas ulahnya melakukan ujaran kebencian Edy Mulyadi dikenakan Pasal 45 a ayat 2 juncto Pasal 28 ayat 2 Undang-Undang ITE juncto Pasal 14 ayat 1 dan ayat 2 juncto Pasal 15 Undang-Undang Perhimpunan Hukum Pidana juncto Pasal 156 KUHP dengan ancaman 10 tahun penjara.

(fir/pojoksatu)