Pengamat Ini Sebut Cak Imin Tak Hadiri Pengukuhan PBNU Karena Gus Yahya Orangnya Gus Dur

Cak Imin

POJOKSATU.id, JAKARTA — Pengamat politik Ujang Komarudin menyebut ketidakhadiran Ketum PKB Cak Imin di pengukuhan PBNU di Kaltim karena Gus Yahya orangnya Gus Dur. Ini terkait kisruh masa lalu.

Menurut Ujang, ketidakhadiran Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar alias Cak Imin di pengukuhan PBNU di Balikpapan, Kalimantan Timur, menunjukkan sikap politik Cak Imin yang sesungguhnya.

Ujang Komarudin menyebut Cak Imin sedang menegaskan sikapnya yang memang berbeda kubu dengan Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya.

Ujang Komarudin mengurai, Gus Yahya merupakan orangnya Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.


Sedangkan Cak Imin pernah menggusur Gus Dur dari PKB.

“Kita tahu Gus Yahya itu dulu PKB kubu Gus Dur dan pernah jadi Wasekjen di PKB kubu Gus Dur. Kita tahu juga PKB Gus Dur dikalahkan oleh PKB Cak Imin,” jelas Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Selasa siang (1/2).

“Sehingga kubu PKB Gus Dur termasuk Gus Yahya tergusur,” katanya lagi.

Menurutnya, wajar jika Cak Imin menunjukkan sikap yang cenderung kontra dengan PBNU kepemimpinan Gus Yahya.

“Kini ketika Gus Yahya jadi Ketum PBNU, ya masih punya pandangan politik yang berbeda dengan Cak Imin,” kata pengamat politik jebolan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah, Senin malam (31/1) mengatakan, ketidakhadiran Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar dalam acara pengukuhan PBNU mempertegas ada disharmoni hubungan dengan Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya.

Analisa Dedi, realitas politik ini akan merugikan politisi yang karib disapa Cak Imin itu. Sebab, Nahdlatul Ulama (NU) adalah basis elektoral PKB dari pemilu ke Pemilu.

Dedi melihat, kerugian politik akan makin mengkhawatirkan posisi Cak Imin jika ternyata situasi disharmoni bersifat personal.

Antara Cak Imin dan Ketua umum PBNU Yahya Cholil Staquf yang merupakan kakak kandung Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas yang juga politisi PKB.

“Ini (disharmoni) semestinya merugikan bagi Muhaimin karena NU selama ini penyumbang mayoritas suara,” jelasnya.

“Lebih mengkhawatirkan lagi jika situasi ini bersifat personal, semisal adanya upaya mengkerdilkan Muhaimin dalam keluarga PBNU,” demikian analisa Dedi. (ral/rmol/pojoksatu)