Bripda Randy Bagus Dipecat, Pasal Yang Dituduhkan Padanya Masih Mengganjal, Harusnya Aborsi Unsur Paksaan

Bripda Randy Bagus dipecat dari polisi (jpnn)

POJOKSATU.id, SURABAYA— Bripda Randy Bagus Hari Sasongko sudah dipecat dari kepolisian akibat terlibat dalam kasus aborsi berujung kematian dari mahasiswi Novia Widyasari.

Namun masih ada yang mengganjal pada pengacara atau tim advokasi bagi korban terkait pasal yang dikenakan dalam kasus Bripda Randy ini.

Selain itu, pengacara atau tim advokasi keadilan untuk Novia Widyasari, Abdul, juga menyinggung soal tangkapan layar pesan WhatsApp yang beredar antara korban dan orang tua Bripda Randy Bagus.

Dalam isi pesan itu menyebut ibu Randy terlibat dalam aborsi yang dilakukan Novia.


“Ada kemungkinan untuk menjerat pihak-pihak lain yang seharusnya turut bertanggung jawab, termasuk orang tua Randy atas tindakan aborsi paksa Novia Widyasari hingga berujung pada kematiannya,” tandas Abdul.

Tim advokasi keadilan untuk Novia Widyasari meminta Polda Jatim terus mendalami kasus pidana dengan tersangka Bripda Randy Bagus Hari Sasongko.

Menurut salah satu tim advokasi Abdul Wahid, pihaknya menyayangkan bila Bripda Randy Bagus hanya dijerat Pasal 348 KUHP tentang Aborsi dengan Persetujuan.

Abdul meyakini aborsi tersebut tanpa persetujuan dan kehendak korban, yakni ada unsur paksaan.

“Aborsi itu dilakukan atas desakan dan bujuk rayu Randy dan keluarganya,” katanya, Sabtu (29/1).

“Advokasi mendorong adanya perubahan persangkaan pasal yang awalnya 348 menjadi 347 KUHP, yakni aborsi tanpa persetujuan,” tegas dia lagi.

Diketahui, Bripda Randy juga sudah menerima sanksi etik kepolisian, yakni diberhentikan tidak dengan hormat.

Namun, lanjut dia, kasus itu tetap akan diawasi mengingat proses pidana umum Bripda Randy masih harus diselesaikan.

“Di luar proses etik profesi yang melahirkan putusan PTDH itu, kami mengingatkan Polda Jatim masih terdapat proses pidana yang harus diselesaikan secara tuntas, adil, dan terbuka,” tegas Abdul. (ral/jpnn/pojoksatu)