1.000 Siswa Demo SMA Jadi Markas Brimob di Papua, Natalius Pigai Minta Jokowi Tarik TNI dan Polri

Siswa demo protes SMA jadi markas Brimob di Papua. (Facebook/Warpo Sampari Wetipo)

POJOKSATU.id, PAPUA – Sedikitnya 1.000 siswa dari tiga sekolah di Papua melakukan aksi demonstrasi. Mereka protes lantaran SMK dan SMA jadi markas Brimob di Papua.


Para siswa SMA dan SMK itu mendesak brimob angkat kaki dari sekolah mereka. Para siswa merasa terganggu karena SMK dan SMA jadi markas Brimob.

Mereka menilai keberadaan Brimob di sekolah mereka mengganggu aktivitas belajar.

Tiga sekolah yang jadi markas Brimob di Yahukimo Papua yakni SMA Negeri 2 Dekai, SMA Ninia, dan SMK Negeri 2 Deikai.


Para siswa dari ketiga sekolah itu berunjuk rasa di Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Yahukimo pada Kamis (20/1) sekitar pukul 10.00 WIT.

Para pelajar itu jalan kaki dari Jalan Cenderawasih ke kantor dinas pendidikan sambil membawa spanduk.

Para siswa itu berorasi sambil jalan. Mereka menyebut sekolah mereka jadi markas Brimob selama beberapa bulan terakhir.

Keberadaan Brimob di sekolah menyebabkan para siswa tidak bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar.

Ketua OSIS SMA Ninia, Thoni, mengatakan aktivitas belajar siswa terhambat lantaran sekolah mereka ditempati Brimob.

Ia menyebut terhambatnya aktivitas belajar siswa tidak sesuai dengan amanah Pasal 31 Undang-Undang Dasar 1945 tentang hak setiap warga negara untuk mendapatkan pendidikan.

Thoni meminta dinas pendidikan mencari solusi untuk memindahkan aparat keamanan dari sekolah mereka.

Thoni mengancam pihaknya akan kembali melakukan unjuk rasa jika Brimob yang menempati sekolah mereka tidak dipindahkan.

“Kami ingin kembali bersekolah seperti biasanya,” ucap Thoni.

Aktivis HAM asal Papua, Natalius Pigai membagikan video siswa Papua melakukan aksi unjukrasa menuntut brimob angkat kaki dari sekolah mereka.

“Protes siswa SMU karena Sekolahnya di tempati aparat,” kata Natalius Pigai dikutip Pojoksatu.id dari akun Twitternya @NataliusPigai2 pada Jumat (21/1).

Ia menyebut orientasi negara dalam mengejar OPM di Papua sudah berubah menjadi perampasan hak.

Karena itu, Natalius Pigai meminta agar Presiden Jokowi menarik pasukan TNI dan Polri dari tanah Papua.

“Saya minta Presiden Jokowi dialog dan menarik TNI/Polri di Papua. Negara sudah disorientasi dari mengejar TPN/OPM menjadi pendudukan dan perampasan hak-hak fundamental rakyat Papua secara gamblang dan masif,” tandas Pigia. (one/pojoksatu)