6 Kontroversi Arteria Dahlan, Minta Dipanggil ‘Yang Terhormat’ Hinga Sebut Prof Emil Salim Sesat

Arteria Dahlan saat Komisi III DPR rapat kerja dengan Kejagung.

POJOKSATU.id, JAKARTA – Anggota DPR RI Arteria Dahlan telah berulangkali menjadi sorotan. Pernyataannya yang ceplos-ceplos kerap membuat pihak lain tersinggung.


Sebelum menjadi anggota DPR RI dari PDI Perjuangan, Arteria Dahlan bekerja pengacara. Politikus kelahiran 7 Juli 1975 ini adalah mulai duduk di kursi parlemen pada 23 Maret 2015.

Saat itu, Arteria Dahlan menjadi Pengganti Antar Waktu (PAW) dari Djarot Saiful Hidayat yang ditunjuk sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta mendampingi Gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Pada Pemilu 2019, mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI dari daerah pemilihan (dapil) Jawa Timur VI. Ia pun terpilih menjadi menjadi anggota DPR RI periode 2019–2024.


Sejak duduk di DPR, Arteria selalu ditempatkan di Komisi III, komisi yang membidangi hukum, HAM, dan keamanan.

Mitra kerja Komisi III DPR RI yakni Kemenkumham, Kejaksaan Agung, Polri, KPK, Komnas HAM, PPATK, LPSK, dan
BNN.

Setiap kali Komisi III DPR RI mengundang mitra kerja, Arteria tak pernah ketinggalan memberikan pendapat, pernyataan, maupun usulan.

Pernyataan kontroversi Arteria Dahlan kerap muncul dalam rapat resmi dengan mitra kerja Komisi III.

Berikut ini deretan kontroversi Arteria Dahlan:

1. Minta Dipanggil “Yang Terhormat”

Pada 11 September 2017, Komisi III rapat kerja dengan KPK. Dalam rapat tersebut, Arteria meminta pimpinan KPK memanggilnya dengan sebutan “Yang Terhormat”.

Arteria protes karena lima pimpinan KPK sejak awal rapat tak memanggil anggota DPR dengan “Yang Terhormat”.

“Ini mohon maaf ya, saya kok enggak merasa ada suasana kebangsaan di sini. Sejak tadi saya tidak mendengar kelima pimpinan KPK memanggil anggota DPR dengan sebutan ‘Yang Terhormat’,” kata Arteria.

Ia membandingkan sikap kapolri yang saat itu dijabat Tito Karnavian dengan sikap pimpinan KPK dalam rapat kerja.

“Malahan Pak Tito memanggil kita kadang dengan sebutan ‘Yang Mulia’. Ini pimpinan KPK sejak tadi enggak ada yang memanggil kita dengan sebutan ‘Yang Terhormat’,” jelas Arteria.

2. Memaki Kemenag

Arteria melontarkan makian kepada Kementerian Agama dengan kata bang**t dalam rapat kerja Komisi III DPR pada pada 28 Maret 2018. Sehari kemudian, Arteria meminta maaf.

3. Sebut Prof Emil Salim Sesat

Pada Oktober 2019, Arteri beradu argumen dengan ekonom senior Prof Emil Salim saat tampil dalam acara Mata Najwa yang ditayangkan Trans 7.

Saat itu, Arteria memotong pernyataan Emil Salim. Ia berdiri menunjuk-nunjuk Emil. Ia menuding pemikiran Emil sesat.

Sikap Arteria itu menuai banyak kecaman. Ia dituntut minta maaf, tapi menolak. Ia menyebut sikapnya merupakan bentuk perjuangan ideologi.

4. Minta KPK Tak OTT Penegak Hukum

Pada November lalu, Arteria menyatakan bahwa polisi, jaksa, dan hakim semestinya tidak bisa ditangkap dalam operasi tangkap tangan (OTT) KPK. Sebab, penegak hukum merupakan simbol negara dalam penegakan hukum.

Menurut Arteria, OTT selama ini kerap membuat gaduh dan menyebabkan rasa saling tidak percaya antarlembaga.

Dikatakan Arteria, OTT hendaknya tidak dimaknai sebagai satu-satunya cara melakukan penegakan hukum.

5. Ribut dengan Penumpang Pesawat

Pada akhir November 2021, Arteria dan ibundanya ribut dengan seorang perempuan yang mengaku anak jenderal bintang tiga bernama Rindu Anggiat Pasaribu.

Video Arteria cekcok dengan Anggiat di bandara Bandara Soekarno-Hatta itu pun viral di media sosial. Keduanya saling lapor ke polisi.

Anggiat akhirnya meminta maaf. Anggiat datang langsung ke Kompleks Parlemen, Jakarta, tempat Arteria berkantor. Anggiat minta maaf kepada Arteria dan ibundanya. Kasus ini pun selesai.

6. Minta Copot Kajati yang Pakai Bahasa Sunda

Pada Senin, 17 Januari 2022, Komisi III DPR RI menggelar rapat kerja bersama Kejaksaan Agung (Kejagung). Dalam rapat tersebut, Arteria meminta agar jajaran Kejagung bersikap profesional dalam bekerja.

Arteria menyinggung seorang Kepala Kejaksaan Tinggi yang menggunakan bahasa Sunda ketika rapat kerja. Ia meminta Jaksa Agung ST Burhanuddin memecat Kajati tersebut.

“Ada kritik sedikit Pak JA, ada Kajati yang dalam rapat dan dalam raker itu ngomong pakai bahasa Sunda, ganti Pak itu,” tegas Arteria. (one/pojoksatu)