Munarman ‘Takut’ Kena Hukuman Mati Pasal 14, Cecar Saksi Pelapor dan Tepis Interupsi Jaksa

Munarman ditangkap Densus 88 Antiteror
Munarman ditangkap Densus 88 Antiteror

POJOKSATU.id, JAKARTA – Di persidangan di PN Jaktim, Munarman mencecar saksi pelapor dan menepis interupsi jaksa penuntut umum (JPU). Munarman juga menyebut dia terancam hukuman mati pasal 14.


Di persidangan di PN Jaktim, Senin (17/1/2022), Munarman tidak terima ketika jaksa hendak menginterupsi keterangan saksi.

Sebab, Munarman merasa sebelumnya tidak menyela kesempatan jaksa saat bertanya pada saksi.

Jaksa menghadirkan saksi berinisial IM dalam persidangan itu yang mengaku melaporkan dugaan terorisme yang dilakukan Munarman.


Sidang lanjutan perkara terorisme yang menjerat Munarman kembali digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim), Senin (17/1/2022).

Munarman sebelumnya pernah menjabat Sekretaris Umum FPI sebelum FPI ini dibubarkan pemerintah.

Salah satu bukti yang dibawa dalam siding yaitu perihal maklumat yang pernah dibuat FPI yang menyatakan ormas yang kini sudah dilarang pemerintah itu mendukung seruan kelompok Al Qaeda, termasuk pimpinan Abu Bakr Al Baghdadi.

“Hukum pidana kan kita sama-sama tahu, ada peristiwa sebab akibatnya, kasualitas secara langsung,” jelasnya.

“Pertanyaan saya itu konkretnya apa peran saya dalam maklumat itu sehingga maklumat itu dijadikan sebagai barang bukti laporan saudara itu?” tanya Munarman ke saksi IM.

Munarman menuding saksi hanya asal menghubung-hubungkan peristiwa yang terjadi dengan dugaan terorisme.

Namun saksi menjelaskan ada bukti-bukti yang mengarah bila Munarman sebagai penggerak orang melakukan terorisme.

“Semua cerita, semua narasi yang dibangun itu berdasarkan fakta-fakta yang didukung dengan berbagai keterangan dan juga fakta-fakta yang sudah kita lihat,” katanya.

“Ada semacam hubungan antara Munarman hadir pada acara-acara tersebut. Munarman dianggap sebagai tokoh FPI, sementara FPI mendukung jihadis Al Qaeda pada saat itu,” jawab saksi.

Munarman pun merasa ada logika yang salah dalam cara berpikir saksi. Dia lantas mencecar saksi dengan sejumlah premis dan memintanya mengambil kesimpulan.

“Saya pakai kaidah berpikir saudara. Pertanyaan saya ada 216 datanya nih tahun 2017, meningkat 221 persen di tahun 2018,” katanya.

“ Ada sebanyak 289 orang polisi terlibat narkoba. Ada kapolsek nyabu di belakang rumah dinas wagub, kapolsek, beserta anggotanya terlibat narkoba. Apakah pertanyaan otomatis polisi itu sarang pengguna narkoba? Jawab saja logikanya sama,” tanya Munarman.

“Jawab saja bisa tidak?” tanya hakim.

“Tidak, Yang Mulia,” jawab saksi.

Munarman mencecar saksi lagi dengan hal-hal menyangkut logika. Salah satu pertanyaan mengenai polisi yang mendukung separatis Papua.

“Dua polisi jual senpi dan ikut kelompok separatis Papua. Saya tanya lagi berdasarkan logika, apakah Kepolisian Indonesia juga sarang teroris?” tanya Munarman.

“Bukan, Yang Mulia,” jawab saksi.

“Konteksnya dengan bukti FPI, maklumat yang saudara ajukan sebagai bukti menjerat saya, melaporkan saya sehingga saya masuk penjara sampai sidang saat ini,” katanya.

“Saya ini kehilangan mata pencaharian. Ada 25 orang lebih yang kehilangan mata pencaharian juga, karena saya masuk penjara. Saudara harus tahu!” cecar Munarman.

Tiba-tiba jaksa hendak interupsi tetapi Munarman menepis. Sebab, Munarman merasa sebelumnya jaksa sudah bertanya pada saksi dan dia tidak menyela.

“Izin interupsi, Yang Mulia,” ucap jaksa.

“Saya tidak terima interupsi. Tadi saya biarkan sepenuhnya, jaksa penuntut umum. Ini hak saya, saya ini terancam hukuman mati, di awal sidang menyebutkan hukuman mati Pasal 14,” kata Munarman dilansir detikcom

Dalam perkara ini Munarman didakwa menggerakkan orang lain untuk melakukan teror. Munarman juga disebut jaksa telah berbaiat kepada pimpinan ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi.

Jaksa mengatakan perbuatan Munarman itu dilakukan di sejumlah tempat.

Adapun tempatnya adalah Sekretariat FPI Kota Makassar-Markas Daerah LPI (Laskar Pembela Islam), Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an Sudiang Makassar, dan di Aula Pusbinsa Kampus UIN Sumatera Utara.

Perbuatan Munarman itu dilakukan dalam kurun 2015.

Menurut jaksa, Munarman sekitar Juni 2014 melakukan baiat kepada pimpinan ISIS, Abu Bakar Al Baghdadi. Baiat itu dilakukan di UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat. (ral/int/pojoksatu)