Ketum KNPI Sebut Laporan Mereka Soal Abu Janda Sudah Berbulan-bulan Belum Ada Kejelasan

Ketum KNPI Haris Pertama

POJOKSATU.id, JAKARTA— Ketua Umum DPP KNPI Haris Pertama menyebut laporan mereka soal dugaan ujaran kebencian oleh Permadi Arya (Abu Janda) sudah berbulan-bulan belum ada kejelasan dari polisi.


Kasus yang KNPI laporkan terhadap Heddy Setya Permadi (Abu Janda) sudah berbulan-bulan belum ada kejelasannya.

Hukum seakan tumpul jika berhadapan dengan BuzzerRP atau pro Jokowi. Padahal, Indonesia merupakan negara yang menjadikan hukum sebagai panglima.

Demikian antara lain disampaikan Ketua Umum DPP KNPI Haris Pertama melalui akun Twitter resminya yang dilihat redaksi Kantor Berita Politik RMOL, Minggu malam (2/1).


“Jika berkaitan dengan Para BuzzerRP apakah akan ada penangkapan ya? Kasus yang KNPI laporkan terhadap Heddy Setya Permadi (Abu Janda) sudah berbulan-bulan belum ada kejelasannya,” singgung Haris.

Atas fakta yang demikian itu, Haris hanya bisa berdoa agar Tuhan YME membuka mata hati aparat penegak hukum agar bisa berlaku adil.

Karena itu, Haris sangat mengharapkan keadilan dan kebenaran dapat ditegakkan oleh para penegak hukum. Jika masyarakat sudah tidak bisa lagi menikmati keadilan hukum, kemana mereka harus mengadu.

“Tolong wahai para penegak hukum, berikan keadilan yang seadil-adilnya. Saya mungkin hanya salah satu dari jutaan pemuda Indonesia yang rindu akan tegaknya sebuah kebenaran,” pinta Haris.

Terkait keadilan hukum, menurut Haris hal tesebut mutlak harus tercipta. Sebab, Haris tak ingin jika hukum hanya hadir kepada mereka yang mengkritik pemerintah, sementara yang pro kepada pemerintah sama sekali tidak tersentuh oleh hukum.

“Harusnya, mau dia pro pemerintah, kalau dia melanggar hukum harusnya juga diproses, tapi faktanya?” tanya Haris.

Sebagai salah satu dari jutaan pemuda Indonesia, Haris hanya mengharapkan agar negara yang ia cintai ini mampu menciptakan kehidupan yang damai dengan memperjuangkan kebenaran dan keadilan selalu hidup.

“Benar katakan benar dan salah katakan salah,” pungkas Haris. (ral/rmol/pojoksatu)