Modus Phone Seks, Pelaku Phising Ambil Alih M-Banking, Polda Jabar Imbau Masyarakat Waspada

Kejahatan cyber
Kejahatan cyber. Foto: Ctovision

POJOKSATU.id, BANDUNG-  Polda Jabar melalui jajaran Ditreskrimsus berhasil mengungkap kasus transaksi elektronik (ITE).


Seorang warga Palembang diamankan tim dari Subdit V Siber Ditreskrimsus Polda Jabar.

Pelaku melakukan kejahatan siber mulai dari phising hingga phone sex.

Kasus ini diungkap tim Subdit V Siber Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jabar yang dipimpin oleh Kasubdit Kompol A Prasetya. Polisi meringkus seorang pria asal Palembang berinisial Y yang melakukan kejahatan siber.


“Kami berhasil mengungkap di mana terjadi tindak pidana ITE phising, kemudian investasi bodong, aplikasi jual beli palsu dan phone sex,” ujar Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jabar Kombes Arief Rachman, Sabtu (4/12).

Arief menuturkan dalam kasus ini baru Y yang ditetapkan sebagai tersangka. Dia melakukan berbagai kejahatan siber hingga meraup keuntungan miliaran rupiah.

“Ini sama lintas provinsi dengan kerugian miliaran rupiah,” tutur Arief.

Y melakukan berbagai modus kejahatan dunia maya mulai dari phising hingga phone sex. Untuk kasus phising sendiri, Y mengambil alih M-banking milik korban.

Modus ini dilakukan Y dengan cara membuat website yang kemudian diarahkan agar korban mengisi nomor rekening dan pin.

“Modus pertama yaitu phising. Mengambil alih M-banking korban dengan cara mengirimkan link. Ini harus waspada dalam proses pembelajaran masyarakat,” kata dia.

Modus kedua, Y membuat investasi bodong. Di mana dia menggunakan akun palsu pada sebuah website dengan embel-embel investasi online.

“Di mana yang bersangkutan menggunakan akun palsu kemudian melakukan breaching (melanggar) ke aplikasi tersebut di mana hal ini tentunya akan bertentangan juga dengan peraturan pemerintah dan pengawasan dari OJK,” tuturnya.

Modus ketiga yang dilakukan oleh Y yakni membuat aplikasi jual beli palsu. Pada aplikasi tersebut, Y mencantumkan call center dan kode bayar palsu.

Kemudian modus terakhir, Y melakukan phone sex dengan korban. Y dan korban awalnya berkenalan hingga berlanjut ke phone sex dan melakukan pemerasan.

“Nah ini mungkin yang harus diwaspadai di mana tersangka berkenalan dengan korban di sosmed dan membujuk korban memberikan foto dan video bermuatan pornografi. Kemudian tersangka merekam dan setelah itu meminta sejumlah uang. Jadi lebih kepada pemerasan,” kata dia.

Kasus ini masih dalam tahap penyelidikan. Sejauh ini baru satu pelaku yang berhasil ditangkap.

(rif/pojoksatu)