Kasus Pencurian Enam Sertifikat Tanah Milik Ibu Nirina Zubir, Pelaku Berdalih Katanya Masih Diurus BPN Jakbar, Padahal..

Nirina Zubir

POJOKSATU.id, JAKARTA- Mantan Asisten Rumah Tangga Aktris Nirina Zubir, Riri Khasmita berdalih terus saat ditanya bagaimana progres enam sertifikat tanah almarhum ibunya yang hilang.


Buntut dipercaya keluarga Nirina, Riri diminta almarhum ibu Nirina mengurusnya.

“Sekitar pertengahan tahun 2018, almarhum mengatakan kepada para anaknya bahwa sertifikat tersebut hilang dan sedang diurus oleh Riri,” ujar Kepala Subdirektorat Harta Benda Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Polisi Petrus Silalahi kepada wartawan, Kamis 18 November 2021.

Lantas, pada tanggal 12 November 2019, ibunda Nirina meninggal dunia.


Lalu, ahli waris yang tak lain adalah Nirina beserta saudara kandungnya menanyakan perkembangan pengurusan sertifikat tanah yang hilang kepada Riri.

Tapi, jawaban Riri selalu sama. Dia cuma mengaku kalau sertifikat masih diurus.

“Dijawab oleh RK dengan kalimat ‘masih diurus oleh notaris F di BPN’. Dikarenakan tidak ada kepastian, pada bulan November 2020 ahli waris mendatangi kantor BPN Jakarta Barat dan diketahui keenam sertifikat telah beralih kepemilikan menjadi atas nama RK dan E (suami Riri),” katanya.

Sebelumnya diberitakan, Nirina Zubir tidak kuasa menahan air mata saat menceritakan tentang almarhumah ibunya. Sebagai seorang anak, Nirina Zubir merasa almarhumah ibunya belum tenang karena kasus mafia tanah.

“Ibu saya sudah 2 tahun yang lalu dia meninggal tidak tenang. Dia ada note (catatan), ‘uang aku ada tapi pada ke mana ya’. Terus surat belum kelar-kelar ya,” kata Nirina Zubir seraya menangis saat ditemui di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Rabu, 17 November 2021.

Ada 6 surat tanah yang dialih kuasakan oleh asisten rumah tangganya yang bernama Riri Khasmita. Orang tersebut sudah menjaga ibunya sejak 2009. Ia kemudian memanipulasi almarhumah ibu Nirina Zubir yang kala itu memang sudah kurang kuat ingatannya.

“Dan dia mengkawal ibu saya sampai tahu kelemahannya bahkan kami sudah mendapatkan dan ibu saya didoktrin bilang suratnya hilang agar dibantu lagi (mengurus surat),” ujar Nirina.

(dhe/pojoksatu)