Kasus Mafia Tanah Nirina Zubir, Polisi: Ini Belum Selesai Kemungkinan Bakal Ada Tersangka Baru

Nirina Zubir

POJOKSATU.id, JAKARTA- Polda Metro Jaya terus mengembangkan kasus mafia tanah milik keluarga artis Nirina Zubir yang tak lain dilakukan oleh ART nya sendiri.


Kini lima pelaku telah ditetapkan tersangka terkait kasus mafia tanah yang menimpa Aktris Nirina Zubir.

Kelima tersangka itu adalah Riri Khasmita, Endrianto, Faridah, Ina Rosaina, dan Erwin Riduan. Bahkan, tiga orang diantaranya telah dijebloskan ke bui.

“Ini belum selesai, ini terus akan berlanjut, nanti akan berkembang lagi, kemungkinan bakan ada pelaku (tersangka) lain lagi,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Brigjen Pol Yusri Yunus di PMJ, Jakarta Selatan, Kamis (18/11/2021).


Menurut Yusri, untuk melancarkan aksinya para pelaku ini memalsukan tanda tangan keluarga korban.

Sehingga para pelaku mudah untuk mengubah nama sertifikat milik korban.

“Jadi saat sertifikat sudah dipegang, dia kemudian palsukan tanda tangan dan ubah nama sertifikat itu,” ujarnya.

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat dengan pasal berlapis yakni Pasal 263 dan 264 KUHP tentang pemalsuan dokumen dengan pidana penjara enam tahun dan paling delapan tahun penjara.

Kemudian dikenakan Pasal 266 KUHP tentang keterangan palsu akte, serta Pasal 372 KUHP.

Sebelumnya diberitakan, Aktris Nirina Zubir tidak kuasa menahan oir mata saat menceritakan tentang almarhumah ibunya.

Sebagai seorang anak, Nirina Zubir merasa almarhumah ibunya belum tenang karena kasus mafia tanah.

“Ibu saya sudah 2 tahun yang lalu dia meninggal tidak tenang. Dia ada note (catatan), ‘uang aku ada tapi pada ke mana ya’. Terus surat belum kelar-kelar ya,” kata Nirina Zubir seraya menangis saat ditemui di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Rabu, 17 November 2021.

Ada 6 surat tanah yang dialih kuasakan oleh asisten rumah tangganya yang bernama Riri Khasmita. Orang tersebut sudah menjaga ibunya sejak 2009.

Ia kemudian memanipulasi almarhumah ibu Nirina Zubir yang kala itu memang sudah kurang kuat ingatannya.

“Dan dia mengkawal ibu saya sampai tahu kelemahannya bahkan kami sudah mendapatkan dan ibu saya didoktrin bilang suratnya hilang agar dibantu lagi (mengurus surat),” ujar Nirina Zubir.

(fir/pojoksatu)